Uncategorized

Anak Anak, Kita dan Goda Internet

Si sulung Intan kini sumringah. Bangga sejajar teman sekelasnya karena telah punya akun jejaring sosial. Khalid “Donnie” Adam, adiknya tidak mau kalah, merengek dibuatkan akun walau saya tolak. Dunia internet semakin dekat ke mereka, dunia yang disebut sebagai pemicu merebaknya gambar mesum, aksi tak senonoh. Dari koleksi vulgar anggota dewan, artis, pegawai negeri hingga adegan mesum murid sekolahan.
Anak saya euforia dengan goda internet karena cerita teman sekolahnya. Dua orang “pamannya” yang masih SD juga sudah punya akun, walau mereka gunakan hanya untuk main game, sebagaimana diakuinya. Lalu, beberapa petak rumah dari tempat saya, dua warnet telah beroperasi. Beberapa anak seusia Intan, telah keluar masuk warnet itu. Sebagai bandingan, saya mengenal internet beberapa tahun setelah sarjana.

Intan, kelas V dan Donnie kelas II sangat ingin berinternet. Saya pun melonggarkannya, memberi izin untuk surfing ria. Sesekali saya awasi, saya temani. Donni berselancar di youtube menemui Messi dan Torres bintang pujaanya. Intan googling lagu-lagu kesukaannya dan mencari informasi tentang ilmu pengetahuan alam. Hingga berita yang disampaikan istri beberapa hari lalu, sungguh mengagetkan. Anak-anak (usia SD dan SMP) di kompleks kami rupanya telah terbiasa mengakses situs-situs mesum! Padahal baru dua bulan warnet itu beroperasi. Alamak!

Tidak heran jika Indonesia adalah negara dengan pengguna internet di ranah social networking yang semakin menggila dari tahun ketahun. Pengguna FB di dunia, didominasi oleh pengguna Nusantara. Warnet yang semakin menjamur adalah penyebabnya. Saya takut, ulah anak-anak di kompleks bisa berdampak ke anak-anak. Gambar mesum, gambar kekerasan, dan beberapa tontonan yang tak pantas untuk mereka kini sigap mengintai.

“Udah basi kalleee,” Kata seorang kawan. “Anak zaman sekarang sudah biasa melongok situs demikian, gak gaul kalo nggak liat begituan,” lanjutnya. Saya semakin gagap membaca fakta dan informasi ini. Tapi benar saja, pada beberapa waktu lalu di salah satu warnet saya lihat bagaimana warnet digunakan sebagai tempat mengumbar nafsu seksual, menikmati tontonan film biru. Kencan dan kencang di sana bukanlah soal baru. Anak-anak usia 10 hingga 15 tahun sudah jadi langganan. Game, poker, FB, browsing sudah biasa.

***

Kekhawatiran saya pada anak-anak semakin tinggi justeru saat mereka menunjukkan minat belajar internet semakin tinggi, semakin kuat. Mestikah ditolak? Lalu bagaimana pengalaman saat kita kanak-kanak dahulu, seperti apa tarikan sensualitas di memori kita dan membentuk kita dari waktu ke waktu? Mestikah menghindari internet?

Saya sadar. Suasananya telah berbeda tetapi jika ditimbang-timbang konteks dan alurnya tetap saja sama. Perkembangan diri dan lingkungan eksternal tarikannya tetap ada, hanya intensitasnya yang semakin deras dan lebih jauh menukik ke ruang ruang privat, rumah!.

Kini, media bebas menemui atau bahkan menarik kita dan anak-anak langsung ke pusarannya. Televisi, internet,radio, komputer dan media cetak adalah contohnya. Anak-anak telah mencoba apa yang dilihat dan diajarkan di sekolah, belajar tentang komputer dan teknik menggunakannya. Tetapi, apakah di sana diajarkan pula tentang internet sehat dan bagaimana bersikap saat tersaji gambar porno dari web-web internet yang tanpa sengaja mereka klik?

Saya menerawang ke masa SD. Mengingat kala pertama melihat gambar mesum. Masa itu sebenarnya masa yang nyaris tanpa beban sekompleks kekinian. Semua mengalir apa adanya. Dulu, kami melihat adegan porno pada kartu remi. Entah darimana datangnya, tiba-tiba kami telah berkerumun di tengah lapangan bola. Tapi tidak heran karena saat itu Galesong kampung kelahiran saya sudah terkenal sebagai gudang pelaut, warganya banyak yang telah berlayar kemana-mana. Banjarmasin, Tarakan, Gresik hingga Surabaya. Belum lagi denyut Makassar yang semakin kencang yang hanya beberapa kilometer dari sekolah.

Bukan hanya soal gambar mesum. Soal perilaku pacaran dan kebiasaan merekok masih sembunyi-sembunyi. Seorang sahabat saat kelas III SMP telah merokok. Hal yang sangat tabu pada saat itu. Walau tabu tetapi masih saja ada yang mencobanya. Dia segelintir dari ratusan siswa SMP di Galesong yang merokok. Dia tinggi besar dan termasuk bintang kelas dalam olah raga sepakbola dan takraw.

Padahal, saat masih kanak sekali, saya juga telah mencoba menyulut rokok-rokok sisa orang tua (puntung) yang dibuang ke tanah. Kami isap. Bah!

Tahun-tahun di sekolah SMP adalah tahun transisi yang menantang. Tahun itu, video VHS telah merangsek masuk ke desa-desa. Saya adalah penikmat film-film versi VHS. Dari yang mesti membayar Rp. 50rupiah hingga Rp. 150 Rupiah. Film sensual yang pamer paha ala Doris Callebout hingga Eva Arnaz telah akrab dengan kami. Ada dua langganan nonton film saya saat itu, tempat Daeng Mare dan rumah Daeng Ngimba (seorang tentara). Usia sekolah SMP adalah rentang menuju status akil baliq. Mimpi basah sepertinya bermula di usai SMP. Saya tidak ingat tahun persisinya.

Begitulah beberapa cerita tentang dinamika di sekolah dan kaitannya dengan laku sensual dan perubahan fisiologis yang menyertainya. Semua mengalir begitu saja tanpa dihantui perasaan bersalah dan diwaspadai. Beberapa kawan seusia saya, sepermainan, pada saat tamat sekolah SMA atau STM telah menggondol gadis pujaannya walau belum punya pekerjaan tetap. Mereka memilih kawin dini.

Nah, membaca dan mengaitkan fakta diri dan gejala media internet seperti itu membuat saya yakin, bahwa tidak ada alasan untuk menutup peluang anak-anak itu untuk berinteraksi dengan dunia luar yang semakin kompleks. Mereka pasti akan berhadapan dengan goda seperti itu hingga kita mesti berdamai dengan situasi eksternal anak-anak dan rumahtangga kita.

Kita hanya perlu mengantarnya ke gerbang kebebasan yang bertanggung-jawab. Terdengar normatif tetapi memang demikianlah adanya.

Kembali ke ihwal internet, selain peran orang tua, lingkungan eksternal seperti sekolah dituntut untuk memberi opsi yang lebih produktif dan sehat. Sekolah harus kreatif tetap tidak membelenggu. Kebiasaan berolahraga atau mendorong anak-anak untuk selalu membaca buku adalah keniscayaan. Tapi saya sangsi jika sekolah atau lingkungan eksternal anak-anak kita terbiasa dengan ajakan membaca buku. Meminta sekolah melarang anak-anak membawa hape berkamera saja susahnya minta ampun!

Mengajak anak-anak untuk memanfaatkan dunia maya dengan benar tentu akan bermanfaat bagi mereka. Kini bola bergulir dari rumah, sekolah dan lingkungan permainan anak-anak kita. Bukan pekerjaan ringan, saat warnet (sebagai misal) masih mengejar untung dibanding mutu generasi berikutnya, semisal melarang anak-anak mengakses situs-situs mesum.

Makassar 05042010


Paccarita adalah ikon dari komunitas blogger Makassar, Anging Mammiri Paccarita adalah anak kecil yang ceria dan senang berbagi banyak hal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *