Uncategorized

Ancaman di Balik Pesona Wisata Air Panas

Seorang anak usia belasan berdiri mematung tidak jauh dari gerobak penjaja makanan yang berjejer semakin mendekat ke kaki bukit. Di tangannya menggantung satu cambuk kuda. Ada kuda cokelat berkulit licin di sampingnya.

Saya bergeser ke toko souvenir dan membeli baju anak-anak bertuliskan “Wisata Ciater”. Di dekat penjual pakaian terdapat pasar buah, horizontal ke arah kaki bukit. Ada nenas, alpokat, kol. Nenas paling banyak terlihat, adalah salah satu produk dari perkebunan yang marak dijumpai di bukit-bukit sekitar Ciater.

Dari pintu masuk ke lokasi wisata air panas Ciater, Jawa Barat terlihat para pengunjung satu persatu memasuki pintu masuk lokasi wisata itu. Waktu masih pukul 10.00.

Lokasi wisata air panas Ciater ini jadi andalan. Beragam wahana hiburan disiapkan pengelola seperti kolam rendam air panas alami, lapangan tenis, wahana anak-anak, cinema 4D, rumah hantu dan tembak hantu, fasilitas olahraga Go Kart, Mini Moto, Jeep off road, Point Ball, Flying Fox, perahu dayung, terapi ikan, Dream Zone hingga sepeda air. Ada pula beberapa petak toko pakaian dan asesoris dan café yang dikelola dalam area wisata.

Di dekat pintu masuk, tidak jauh dari taman kolam duduk seseorang dengan topeng kayu warna putih berlatar papan “Sari Ater Resort”, sepertinya maskot taman wisata. Beberapa anak kecil dan remaja datang mendekat untuk berfoto bareng. Mereka bahagia mengapit sang maskot. Di sampingnya terpajang rangka kendaraan, semacam go kart.

Jelas sekali bahwa di daerah berhawa sejuk itu, dengan modal lahan seluas 30 Ha pengelola bermaksud memanjakan dan memuaskan pengunjung dengan beragam sarana hiburan. Ini yang berbeda dibanding beberapa wisata alam, utamanya air panas di beberapa wilayah lainnya di Indonesia.

Ancaman Ciater

Anak yang sedari tadi diam membisu mendadak tebarkan senyum saat seorang lelaki dan perempuan muda hendak diantar keliling area wisata. Diantar dengan berkuda. Mereka minta dua kuda. Si anak dan temannya pun mengarahkan mereka ke kebun teh, ke arah lekuk bukit.

Ada yang tersaji jelas. Di depan mereka, di bukit tidak jauh dari mereka, bukit terlihat tandus, hanya ada beberapa pohon yang masih bertahan.

Bukit yang telah disulap jadi kebun teh itu menawarkan fakta; pohon yang masih bertahan namun langka, lahan yang rata, tanaman teh yang menghijau walau terlihat landai. Ada kelokan, semacam alur buangan mengarah ke lokasi wisata Ciater.

Issu konservasi lahan layak dipapar di sini. Saat ada bagian perbukitan yang dimanfaatkan sebagaimana wisata Ciater ini, pengelola harus melek fakta di sekitarnya. Target mereka memperluas wahana wisata mesti mempertimbangkan daya dukung lingkungan. Perluasan wahana itu pasti mengusik lahan penopang seperti hutan di atas bukit.

Di lokasi wisata itu saya tidak melihat pesan bijak semisal, “konservasi hutan, lestarikan pohon untuk anak cucu kita”. Saya tidak tahu apa mereka paham bahwa jika semakin banyak pohon yang ditebang di atas bukit maka ancaman ke wahana wisata semakin dekat. Ancaman banjir atau longsoran tanah mengintai. Lihat saja nanti.

Mengantar tamu ke kaki bukit


Paccarita adalah ikon dari komunitas blogger Makassar, Anging Mammiri Paccarita adalah anak kecil yang ceria dan senang berbagi banyak hal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *