Samalona, Wisata Pulau Part II

“Minumki’ pak, ” kata wanita paruh baya seraya meletakkan segelas kopi hitam. Dia ditemani suaminya. Saya menarik kursi, mendekatkan diri ke meja. Bersama belasan anggota komunitas blogger Anging Mammiri, Makassar kami berekreasi di Pulau Samalona, salah satu pulau favorit untuk berwisata pantai di Makassar.

Ini kali pertama saya menginjakkan kaki di pulau ini. Selama ini hanya melihatnya dari jauh saat lalu lalang dari dermaga Kayu Bangkoa ke Pulau Barrang Lompo, utamanya saat kuliah dulu antara tahun 1989-1995.

Pagi itu, walau musim barat di bulan Desember, kami datang ke pulau itu untuk menikmati suasana pantai dan melakukan snorkling di rataan terumbu sisi barat. Suasananya sangat nyaman. Saat kami datang cuaca sangat bersahabat.Pulau yang berpenduduk 70 Jiwa ini, masuk dalam wilayah administrasi kelurahan Mariso.

Sepasang suami-istri itu bagian dari keluarga yang mengaku pemilik sah pulau ini, sebagaimana tertulis di pintu gerbang saat kami merapat di pulau.”Kakek kami adalah petugas keamanan saat masa penjajahan,” Kata Hamja Dg Rurung, 45 thn lelaki yang menemani saya pagi itu. Lelaki berperawakan kekar dan gondrong ini mempunyai nama yang persis sama dengan kakeknya, “Hamja Daeng Rurung”.

Daeng Rurung, lelaki yang beristrikan Daeng Pajja asal Pattallassang, Takalar ini adalah tokoh kunci di Samalona. Dia lulus SD di Barombong dan menjadi tulang punggung keluaga besar di Samalona ini. Dialah yang kerap mewakili warga pulau jika ada pertemuan terkait pengelolaan pulau ini.Daeng Rurung bersama istrinya mengelola penginapan sendiri yang disewakan antara Rp. 200ribu sampai 300ribu tergantung negosiasi dan lama huni.

Dia juga diminta mengelola satu bangunan berpendingin yang dibanderol Rp. 600ribu/malam milik salah seorang kontraktor di Makassar.”Tarif itu dihitung saat masuk jam 10 dan keluar jam 10, esoknya” Kata istrinya mengenai penginapan bercat putih ukuran 6×12 meter di depan rumahnya. Tapi saat itu, rombongan kami memilih yang tarif 200ribu/paket. Satu rumah, lengkap dengan perabotan, kamar mandi dan ruang istirahat.

***
Saat beberapa kawan sedang menikmati snorkling dan foto pantai, saya bercengkerama dengan keluarga Daeng Rurung.Menurut Daeng Rurung, saat ini masalah bagi pulau ini adalah semakin hebatnya abrasi pantai di sisi barat. Walau telah dibuat beberapa tanggul namun beberapa sisi lain pulau dirusak gelombang. “Ada satu lapangan bola yang telah terkikis, hiang tak ada lagi” kata Daeng Rurung galau.

Saat ini pulau Samalona, dimata Daeng Rurung adalah milik keluarga besarnya. Menurutnya, saat ini keluarga masih sangat kompak untuk tidak menjual atau memberikan lahan di pulau ini kepada pihak lain kecuali kerjasama pengelolaan. Sebagaimana penginapan bercat putih di depan rumahnya.

“Kami hidup dan mempertahankan generasi dengan mengelola penginapan ini. Kami berharap bapak bisa bantu promosikan penginapan kami. Paling tidak jika tertarik wisata pantai datanglah ke Samalona” Katanya.


About the Author

Paccarita
Paccarita adalah ikon dari komunitas blogger Makassar, Anging Mammiri Paccarita adalah anak kecil yang ceria dan senang berbagi banyak hal.

Be the first to comment on "Samalona, Wisata Pulau Part II"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*