Uncategorized

Dengan Social Media, Semuanya Jadi Mungkin

Mamie Lily, seorang blogger anggota komunitas Blogger Makassar AngingMammiri.org juga menyempatkan diri mengikuti berbagai kegiatan dalam rangkaian Makassar International Writer Festival, termasuk mengikuti diskusi tentang menulis di era baru. Berikut adalah catatannya.

===========================================

Rangkaian acara Makassar International Writer Festival terus berlanjut. Pada hari ke 3, tanggal 16 Juni 2011 kemarin MIWF menggelar diskusi dengan judul; Menulis di Era Media Baru, Dari Blogger ke Best Seller, yang menghadirkan penulis mancanegara  Abeer Soliman (Mesir) – Meeza Mangaste (Ethiopia/USA) – dan penulis lokal Trinity (Indonesia).

Sejak pukul 14:00, gedung di Museum Kota Makassar yang menjadi tempat pelaksanaan acara sudah dijejali oleh para peminat buku dan penulis, sebagian besarnya adalah anak muda.

Di era ini, internet sudah menjadi hal yang tidak dapat terpisah dari setiap aspek kehidupan. Susah menemukan orang yang jika ditanya apa itu facebook atau twitter dan menjawab ‘tidak tahu’. Handphone bukan hal baru lagi, orang sekarang mungkin lebih rela meninggalkan dompet daripada handphone. Lagipula handphone sekarang sudah lebih dominan menjadi media data daripada suara.

Dengan keadaan seperti ini, para penulis yang menjadi narasumber di diskusi ini menyampaikan betapa pentingnya social media untuk bisa menyampaikan ide, pikiran, dan karya-karya.

Abeer Soliman, seorang penulis dari Mesir menceritakan tentang bagaimana sosial media berperan dalam menyampaikan aspirasinya, Aspirasi yang mewakili rakyat Mesir yang protes terhadap pemerintahnya, Walaupun Abeer juga sempat berurusan dengan berurusan dengan pemerintah karena aktifitasnya ini, bahkan akun facebooknya sempat diblok sehingga dia harus membuat yang baru.

Meeza Mangaste, dari Ethiopia bercerita tentang pengalamannya sebelum mencicipi teknologi seperti sekarang. Saat itu dia hanya memiliki telepon biasa. Namun sejak adanya skype, hubungan dengan orang luar semakin mudah. Kemudahan ini memancing dirinya untuk terus menerus berhubungan dengan dunia luar melalui internet. Tetapi dia sadari dirinya punya kehidupan pribadi dan harus tetap menulis. Penulis cerpen ini akhirnya membuat perjanjian dengan provider di negaranya untuk menghentikan layanannya di jam-jam tertentu sebagai salah satu cara menghindarkan dirinya dari kecanduan internet yang berlebihan.

Sementara itu Trinity, penulis best seller The Naked traveller juga hadir sebagai nara sumber. Wanita keturunan yang berkulit putih ini menceritakan kisahnya bagaimana sosial media sangat membantu dalam membentuk image dan menjadi sarana marketing yang efektif. Dengan pamor dan popularitas yang dimilikinya sekarang yang dibuktikand dengan follower twitter yang bejibun, Trinity kadang dikontrak dan dibayar untuk sekedar nge-twit. Tetapi Trinity menekankan kalau twit berbayar yang dipilihnya hanyalah twit yang relevan dengan bidangnya,

Wanita yang mengaku kalau jam biologisnya berlawanan dengan orang-orang pada umumnya ini sangat menghindari hal-hal yang berbau SARA dalam setiap tulisannya.

Secara keseluruhan diskusi yang dipandu oleh Lily yulianti, direktur Makassar International Writer Festival yang didampingi oleh Wendy sebagai interpreter ini sangat menarik, penuh informasi dan sangat memotivasi. Sayangnya waktu sangat terbatas karena padatnya acara

Kesimpulan dari diskusi ini adalah banyak keuntungan yang didapatkan dari social media ini jika kita memang bisa melihat dan pandai memanfaatkan kesempatan. Tetapi sebaiknya kita pun harus pandai-pandai mengatur waktu sehingga bisa fokus kepada kegiatan-kegiatan kreatif lainnya.

=================================================================

Mamie Lily, seorang ibu yang juga rajin ngeblog. Blognya bisa dilihat di Mamie Punya Blog


Paccarita adalah ikon dari komunitas blogger Makassar, Anging Mammiri Paccarita adalah anak kecil yang ceria dan senang berbagi banyak hal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *