Pages Navigation Menu

Tempa' Kumpulna Blogger Makassar

Penulis Asing di Pulau Barrang Lompo, Terkesan dan Prihatin

Para tetamu penulis di Barrang Lompo

Rodaan Al Galidi penulis jangkung asal Irak yang berdomisili di Belanda duduk mematung di atas tumpukan batu karang. Dia memandang lirih ke Agus yang bersimpuh layu. Remaja berumur 20 tahun ini lumpuh muda. Itu adalah salah satu pemandangan dari rangkaian “Makassar International Writers Festival, MIWF” di Barrang Lompo (15 Juni 2011). Satu hari sebelumnya para penulis ini mengunjungi Galesong, salah satu kawasan pesisir di selatan Makassar.

 

***

Rodaan bersama tujuh penulis asing asal Ethiopia, Mesir, Belanda, Australia, Turki, Amerika serta beberapa penulis lokal Makassar berkunjung ke pulau Barrang Lompo sebagai bagian dari “Coastal Community Program” kerjasama Rumah Budaya Rumata’ dengan Ikatan Sarjana Kelautan (ISLA) Universitas Hasanuddin. Rumata’ adalah organisasi kebudayaan yang dikelola oleh sutradara beken Riri Riza dan penulis kawakan asal Makassar yang kini berdomisili di Australia, Lily Yulianti Farid.

Kunjungan penulis tersebut didampingi oleh Andi Januar Jaury Darwis, Ketua persatuan olah raga selam POSSI Sulawesi Selatan, Lurah Barrang Lompo, S.B Kadir, serta Ketua ISLA Unhas, Kamaruddin Azis dan beberapa warga dan alumni Kelautan Unhas. Rombongan berangkat ke pulau dengan menggunakan dua unit speedboat milik Pemkot Makassar dan sesepuh olah raga bahari Sulawesi Selatan Andi Ilham Mattalatta di dermaga Popsa.

Tujuan kunjungan ini adalah untuk melihat kehidupan dan dinamika warga pulau dalam wilayah adminsitratif Kota Makassar. Sebagaimana diketahui bahwa terdapat 11 pulau dalam wilayah Kota Makassar. Peserta menyusuri jalan pulau dan memandang pemukiman warga yang sangat sempit dan padat, mengamati Marine Station Unhas, mesjid besar Barrang Lompoa, hingga ke pekuburan tua. Beberapa dari mereka mengabadikan kuburan yang unik dalam area itu.

Selama observasi pulau tersebut diantar oleh ketua RW setempat. Mereka terkesan dengan wujud mesjid di Barrang Lompo yang sangat megah, serta semangat kerja warga pulau berpenghuni lebih 5irbu jiwa ini.

Penulis Gunduz asal Turki di depan warga bercerita tentang Turki. “Turki adalah negeri dominan Muslim namun juga sukses di sepakbola. Jika warga bisa memperbaiki mesjid mestinya bisa juga memberpaiki lapangan bola menjadi pusat olah raga dan kemajuan pulau. Warga tidak perlu menunggu bantuan pemerintah, silakan patungan untuk membangun stadion bola” Katanya kepada dua orang warga Barrang Lompo.

***

Oleh pak RW kami diantar ke salah sisi barat pulau. Rombongan melewati jalan sempit yang telah dipaving block. Di sana, rombongan mendapati Agus. Anak muda ini tanpa baju dan duduk memandang laut. Dia pucat. Matahari memanasi punggungnya yang hitam pekat. Agus adalah korban dekompresi penyelaman.

Dia lumpuh karena terlalu lama menyelam di dalam laut. Sudah beberapa hari ini selalu dibawa ke sana untuk berjemur. Konon, untuk menyembuhkannya.

“Jika ada 20 nelayan di blok kampung ini telah lumpuh karena penyelaman, kenapa pula belum ada inisiatif untuk mencegahnya?” kata Rodaan dengan nada prihatin. “Ini terkait kebutuhan ekonomi” kata Januar.

Butuh waktu dan upaya kerja keras untuk menyadarkan warga apalagi jumlah penduduk semakin bertambah dan butuh menghidupi keluarga, katanya.

Rombongan kemudian bertolak ke Lorong Janda dan menemui Mama’ Mima’. Di lorong itu terdapat delapan janda yang kehilangan suami karena penyelaman, juga karena kecelakaan di laut. Dialog Mama’ Mima’ dengan penulis asal Mesir, Abeer Soliman dan penulis wanita asal Ethiopia, Mangiste tentang bagaimana para wanita mengisi waktunya memancing gelak dari para tamu dan warga lokal.

Mereka terkesan dengan kerja keras para wanita Barrang Lompo untuk meneruskan hidup. Sebelum bertolak ke Makassar, para tamu menikmati sajian makan siang di rumah Pak Saleh, seorang sepuh di Barrang Lompo. Sajian sayur kelor, racikan mangga (raca’ mangga) dan ikan bakar beronang, kakap dan ikan karang lainnya membuat para tetamu berdecak kagum.

Kejutan tidak berhenti di situ. Pukul 12.30, saat rombongan ke dermaga, rupanya para penumpang juga baru datang dari Kayu Bangkoa. Satu persatu mereka turun dari kapal penumpang. Sontak, Khrisna Pabicara segera mendaulat Rodaan untuk naik ke kursi dermaga untuk baca puisi. Suasana menjadi riuh. Tepuk tangan dan pujian warga berdatangan.

“Kami sangat senang sekali dan akan datang lagi,” janji Wendy Miller, fotografer asal Melbourne Australia dengan mantap.

 

tulisan ini dipersembahkan oleh Kamaruddin Azis atau lebih dikenal dengan Daeng Nuntung. blog nya dapat dikunjungi di http://denun.net


Anda Suka Tulisan Ini? Silakan Dibagi

Share to Google Buzz
Share to Google Plus
Share to LiveJournal
Paccarita (175 Posts)

Paccarita adalah ikon dari komunitas blogger Makassar, Anging Mammiri Paccarita adalah anak kecil yang ceria dan senang berbagi banyak hal.


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

You might also likeclose