Uncategorized

Sinriliq Datu Museng – Maipa Deapati

sumber postingan: www.daengrusle.net

(Ket gambar: Passinriliq, sumber link)

Saya menamai anak perempuan saya Maipa Deapati. Bagi orang asli Sulawesi Selatan, biasanya akan langsung paham bahwa nama ini adalah khas dari semenanjung selatan pulau Sulawesi itu. Nama Maipa Deapati, terabadikan dalam cerita folkrole rakyat Sulawesi Selatan yang mulanya dituturkan lisan dalam cerita sinriliq Datu Museng dan Maipa Deapati.

Sinriliq Datu Museng dan Maipa Deapati yang merupakan cerita percintaan abadi ini kemudian diadaptasi ke dalam bentuk sastra roman oleh Verdy R Baso diterbitkan Merappi Makassar tahun 1967. Hingga kini lakon Datu Museng – Maipa Deapati masih dipentaskan dalam drama pertunjukan di berbagai panggung kesenian.

 

Sinriliq atau sinrilik merupakan bentuk seni tutur puitis berirama yang dikenal oleh penutur bahasa Makassar. Di suku bugis, bentuk kesenian ini dinamakan Kacaping atau Akkacaping. Dalam budaya nusantara lain bisa juga ditemui ragam yang mirip, misalnya sinden di sunda atau jawa. Berbeda dengan budaya Jawa/Sunda, cerita Sinriliq dan Akkacaping ini dibawakan lansung oleh pemain music tunggal nya (solois).

 

 (gambar dari kaskus)

Penutur yang membawakan kisah sinriliq disebut passinriliq. Cara penyampaian sinriliq biasanya diiringi dengana alat musik gesek sejenis biola yang disebut kesoq-kesoq (rebab?). Kesoq-kesoq ini dimainkan sendiri oleh passinriliq dengan nyanyian mengikuti aturan ritmik yang disesuaikan dengan cerita semisal tempo, nada maupun irama bunyi.

Sinriliq pada zaman dulu digunakan sebagai sarana pendidikan budi pekerti bagi masyarakat Makassar. Terkadang juga menjadi alat propaganda kerajaan untuk menanamkan patriotisme bela negara yang banyak diselipkan dalam cerita sinriliq. Kini, pementasan sinriliq lebih bertujuan untuk melestarikan budaya Makassar yang mulai terlupakan karena kurangnya peminat dan penggiat di kalangan muda.

Selain sinriliq Datu Museng, cerita sinriliq lainnya yang terkenal adalah: sinriliq Kappalak Tallumbatua, sinriliq I Manakku, sinriliq I Maqdi Daeng ri Makka. Namun yang paling popular dan dianggap paling tua adalah sinriliq Datu Museng dan Maipa Deapati. Sinriliq Datu Museng dipercaya mulai dituturkan sebagai cerita rakyat di Makassar pada mula abad 17M.

Sinriliq Datu Museng – Maipa Deapati dikenal dan dituturkan di seluruh wilayah penutur bahasa Makassar; Pangkep, Maros, Gowa, Makassar, Bulukumba, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Selayar. Cerita ini biasa dibawakan pada pesta pernikahan, pesta panen, khitanan, khataman Quran dll. Di masa kini, TVRI Makassar dan Radio RRI juga rutin menyiarkan cerita sinriliq dalam salah satu program acaranya.

Pada mulanya sinriliq Datu Museng tidak dibukukan, hanya menjadi semacam folkrole atau cerita rakyat lisan yang diwariskan turun temurun oleh masyarakat Makassar. Mula pertama sinriliq ini dibukukan pada tahun 1860 oleh seorang Belanda pecinta budaya Makassar bernama Dr BF Matthes dan dimuat dalam buku antologi cerita Makassar berjudul Makassaarsche Chrestomathie. Kemudian, perkembangan selanjutnya dibukukan dalam novel roman oleh Verdy R Baso tahun 1967, dan mulai dipentaskan sebagai sebuah naskah drama pada tahun 1975 oleh Kelompok Studi Teater Tambora yang naskahnya disusun oleh Fachmi Syarif.

 

Begitu kuatnya cerita sinriliq Datu Museng – Maipa Deapati di benak orang Makassar, hingga kemudian nama kedua tokoh tersebut diabadikan sebagai nama jalan di kota Makassar; Jalan Datu Museng dan Jalan Maipa Deapati. Kedua jalan itu berdekat-dekatan seakan-akan bahkan pemerintah kota pun merestui hubungan mereka.

Di ujung barat jalan Datu Museng, terdapat situs makam dengan dua nisan kayu berdiri bersanding kukuh, mengkilap kehitaman, konon itulah makam kedua pasangan cinta abadi tersebut; Datu Museng dan kekasihnya Maipa Deapati.

Menurut sinriliq Datu Museng, cinta keduanya memang bersatu, namun berakhir tragis. Bahkan Maipa Deapati menyerahkan sukarela nyawanya untuk ditikam oleh badik Matatarampanna milik Datu Museng sendiri. Versi yang lain mengabarkan bahwa nyawa Maipa Deapati meregang tertembus peluru Belanda saat melindungi sang kekasih Datu Museng.

Namun, saya lebih memilih versi pertama yang merupakan saduran dari transliterasi sinriliq aslinya yang ditulis dalam buku Makassaarsche Chrestomathie oleh Dr BF Matthes tahun 1860, bahwa Maipa Deapati tewas ditikam oleh Datu Museng sendiri dikarenakan tak mau dirinya diserahkan ke musuh mereka; Tu Malompoa Belanda dan I Calla, yang keduanya jatuh hati secara bersamaan kepada Maipa Deapati.


Paccarita adalah ikon dari komunitas blogger Makassar, Anging Mammiri Paccarita adalah anak kecil yang ceria dan senang berbagi banyak hal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *