Uncategorized

Kafe “Tempat Biasa”, yang Luar Biasa dari Selayar

Suasana Kafe Tempat Biasa di Kota Benteng, Selayar (Foto: Kamaruddin Azis)

Cafetaria atau kafe kian banyak bermunculan, di kota hingga pelosok kampung. Di kota, kafe yang ditopang koneksi internet jadi titik bertemunya para profesional dan anak muda. Kafe memberi banyak peluang. Lalu, apa yang membuat anda terkesan pada satu kafe? Makanan? Pelayanan? Atau live music yang menggoda-menghentak-memanjakan?

Kalau saya, yang berkesan adalah jika muncul imajinasi yang beranak-pinak saat berada di dalamnya! Kafe bukan sekadar tempat refreshing hingga membelenggu kreatifitas, kafe adalah ruang produksi gagasan. Imajinasi itu yang saya peroleh saat berada di Kafe Tempat Biasa (TB) di Kota Benteng, Selayar, Sulawesi Selatan.

TB adalah kafe sarat pesan, tentang spirit memajukan daerah dengan dasar kesukarelaan. Tentang kerjasama dan ketelatenan. Sekaligus ruang multi dimensi, pantai, pasir putih, desa pesisir dan pesona keindahan terumbu karang yang silih berganti melintas di pikiran.

Dia memancar dari pernik yang ada di dalamnya, pajangan foto, pigura, t-shirt, meja, kursi, bahkan dari toilet! Di sini, bagi yang terbiasa dengan desir angin pantai, berenang, menyelam hingga berpetualang dari pulau ke pulau, walau berjarak dua kilo dari tepi pantai Kota Benteng, TB menawarkan nuansa itu.

Berada di atas tanah “hak pakai” seluas 20 x 15 meter, kafe ini melingkupi satu rumah dengan fasilitas penginapan untuk tamu, kios handycraft dan satu bangunan inti kafe semi terbuka dan halaman yang bernuansa Bali. Majamenen yang dianut merupakan perpaduan antara hak pribadi dan dikelola secara bersama.

Bagi tamu, mereka bisa menginap dengan banderol sewa permalam seharga Rp. 100ribu hingga 150ribu. Ada dua payung khas Bali di kiri kanan pintu. Tiga meja dilengkapi kursi yang khusus didatangkan dari Bali ada di kanan cafe. Di dalam, ada empat meja dikitari 16 kursi. Selain itu ada pula lesehan serupa stage. Kafe yang lapang.

***

Dua tahun lalu, gambaran mengenai kafe ini masih berupa sketsa setelah mendengar paparan dokter Benedicta Wayan Suryani, spesial mata yang bekerja di Kota Benteng, Selayar. Saya bertemu di toko souvenir yang menawarkan t-shirt dan merchandise khas bahari. Rumah sekaligus tempat prakteknya ini adalah juga toko itu.

“Inisiatif yang tidak semata-mata demi uang tapi bukti bahwa banyak hal yang bisa dilakukan jika kita ingin mengembangkan parawisata Selayar” katanya dua tahun lalu.

Selain dokter, Ben, begitu dia dipanggil adalah juga diver, aktivis lingkungan yang ulet mengaktualisasikan gagasan dari hal-hal sepele. Dialah yang memelopori dua komunitas pencinta Selayar melalui Sileya Scuba Divers (SSD) dan komunitas pesepeda di Kota Benteng. Walau telah pindah ke Bangka Belitung, Ben menyimpan spiritnya di Selayar, menyusup di relung hati para sahabatnya yang datang dari PNS, karyawan bank, aktivis LSM, warga biasa hingga musisi.

Malam di tanggal 31 Oktober 2011, adalah kali pertama saya sampai di kafe ini. Selama ini hanya menikmatinya dari gambar yang dikirim teman-teman. Ke sini berarti menikmati ide yang disemai dua tahun lalu. Benlah yang menjadi penyemangat bagi beberapa aktivis lingkungan yang rela patungan untuk membangun dan merawat kafe ini. Puluhan juta terkumpul untuk membangun tempat ini.

“Kami resmi buka saat peringatan Hari Bumi tahun lalu” kata Mude Zulkifli, salah seorang tulang punggung di kafe ini. Zul anggota SSD dan mempunyai jaringan luas pada ranah selam, di Sulsel hingga Jakarta.

Zul juga sampaikan bahwa Kafe Tempat Biasa adalah “pickup point” Dive Mag Indonesia yang dibesut Riyanni Djangkaru salah satu ikon konservasi terumbu karang di Indonesia. Ini berarti Kafe TB telah mempunyai jaringan dengan salah satu simpul selam di Indonesia. Di DiveMag ditulis bahwa Kafe “Tempat Biasa” dan “Kios Lantigiang” adalah adalah dua sumber dana bagi program kerja SSD.

***

Bagi Kabupaten Kepulauan Selayar, kafe ini telah menjadi medium interaksi bagi aktivis lingkungan di Selayar. Banyak tamu, turis dan peneliti kelautan mulai terpikat kafe yang tidak biasa di Selayar ini, sebagaimana yang terlihat di buku tamu mereka.

Kafe ini juga menjadi tempat berbagi gagasan tentang program atau inisiatif pengabdian pada masyarakat dengan gaya informal. Para pionir dan simpatisan kafe ini mulai menapak rencana-rencana mulia, pada konservasi lingkungan, bakti sosial dan promosi perlindungan sumberdaya alam pesisir dan laut.

Cawi, salah seorang aktivis konservasi terumbu karang yang selalu hadir di kafe ini, berharap semakin banyak pertemuan, interaksi dan gagasan pelestarian pesisir dan laut yang berlangsung di kafe ini.

“Saya sudah dapat persetujuan dari owner untuk mengadakan diskusi atau pertukaran gagasan di kafe ini” katanya.

Saat saya menulis ini, empat orang tamu dari BPKP Jakarta sedang menikmati mie khas TB, dua orang staf Bappeda Selayar sedang negosiasi pembuatan film dokumenter pembangunan daerah. Dua lainnya maincatur dan ada lima pengunjung sedang browsing.

Saya salah satunya.


Paccarita adalah ikon dari komunitas blogger Makassar, Anging Mammiri Paccarita adalah anak kecil yang ceria dan senang berbagi banyak hal.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *