Uncategorized

3 Hal Di Wajah Kota Makassar

Sampah mewajahi kanal

Ada 3 hal yang kini amat marak di Makassar tercinta ini. Sama maraknya dengan aneka poster, spanduk, dan baliho dari orang-orang  yang berpose apik dan mengusung logo parpol tertentu ataupun dengan tujuan tertentu. 3 hal ini … amat miris disaksikan karena amat mewajahi Makassar tercinta.

Sehari sebelum Idul Fitri, saya melewati beberapa ruas jalan di kota tercinta ini untuk beberapa keperluan. Perhatian saya tertarik kepada 3 hal yang amat mewarnai Makassar dan mengabadikannya di beberapa titik di Makassar sebagai berikut:

Kanalku Sayang Kanalku Malang

Tinggal amat dekat dengan kanal tak menjamin daerah kami bebas banjir. Pendangkalan yang terjadi pada kanal menyebabkan air cepat sekali meluap ketika curah hujan cukup deras tercurah dalam tempo satu jam saja.

Di mana-mana sampah!

Makassar sebenarnya memiliki tiga kanal primer yang alirannya membelah kota yakni kanal Pannampu, Jongaya, dan Sinrijala dengan panjang keseluruhan sekitar 40 kilometer. Sementara kanal tersier atau kanal kecil memiliki panjang 3.200 km. Rumah kami sangat dekat dengan kanal Jongaya, hanya sekitar 200 meter jaraknya.

Kanal yang seharusnya bisa mencegah banjir, sekarang ini sudah tak berfungsi maksimal. Pasalnya, telah terjadi pendangkalan. Pengerukan kanal sudah harus dilakukan tetapi sepertinya tak bisa dalam waktu dekat karena masalah anggaran. “Pengerukan tidak akan bisa dilakukan jika hanya mengandalkan APBD Kota Makassar dan APBD Sulsel.

Anggarannya memang ada, tetapi tidak seberapa,” begitu ungkap  Irwan Intje – anggota Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sulawesi Selatan[i].

Akhir-akhir ini sampah tampak makin menyemarakkan kanal. Entah bagaimana jadinya musim penghujan berikut jika hal ini terus terjadi.

Sampah di Wajah Kota

Menyusuri sekitar 10 kilometer ruas-ruas jalan di Makassar tak luput dari memandang sampah di mana-mana dalam berbagai bentuk.

Bahkan sekitar bak pembuangan sampah pun dikelilingi oleh sampah. Saya sempat heran, mengapa orang tak membuang sampah di dalam bak, hanya meletakkannya di sekitarnya?

Kemudian benak saya menjawab sendiri pertanyaan itu, “Mungkin anak-anak kecil yang disuruh oleh ibu mereka membuang sampah.”

Sampah di sekitar bak

Saya tahu, di sekeliling saya banyak ibu rumahtangga yang bangun sebelum ayam berkokok untuk memulai rutinitas mereka dalam melayani keluarga, tanpa asisten yang membantu. Dimulai dari menyiapkan sarapan, mengurus anak-anak, mencuci piring, mencuci pakaian, menjemur, membersihkan rumah, ke pasar, masak untuk makan siang, cuci piring lagi, memunguti pakaian kering yang dicuci tadi, menyiapkan makan malam, cuci piring lagi, dan lain-lain yang tentu saja butuh waktu tak sedikit dalam merampungkan semuanya.

Jika ada di antara anak-anak mereka yang bisa disuruh membuang sampah, anak-anak inilah yang berjalan kaki atau naik sepeda ke tempat pembuangan sampah. Tinggi bak sampah tak memungkinkan mereka untuk membuang sampah ke dalam bak. Saya sendiri butuh ancang-ancang khusus sebelum melempar kantong kresek berisi sampah ke dalam bak yang tinggi, apalagi anak-anak itu. Bagaimana pula bila kantong sampah mereka berat, tentu lebih mudah meletakkannya di dekat bak sampah.

Maka dengan keadaan Makassar tercinta seperti ini, kapankah adipura bisa kita raih?

Pengemis Juga Manusia

Akhir-akhir ini, pengemis banyak terlihat di taman kota jalan Sultan Hasanuddin dan di beberapa tempat di Makassar. Seperti sedang booming saja. Saya pernah melihat mereka berduyun-duyun, entah dari mana, menuju ke suatu tempat.

Foto-foto ini diambil di taman kota Sultan Hasanuddin, dalam sudut berbeda dan memotret orang-orang yang berbeda:

Mereka bercengkerama

Makassar yang marak oleh ketiga hal di atas, kini sedang marak dengan poster/baliho laki-laki/perempuan berpose apik yang mengusung logo berbagai partai politik di atasnya.

Mudah-mudahan ada solusi yang baik dan manusiawi untuk ketiga hal ini (dari mereka dan dari kita semua).

=================================

Mugniar Marakarma, blogger Makassar yang aktif ngeblog selain tugas utamanya sebagai ibu dan istri. Blog pribadinya dapat dilihat di : http://mugniarm.blogspot.com

Lebih lengkap tentang tulisan ini bisa dibaca di sini


Paccarita adalah ikon dari komunitas blogger Makassar, Anging Mammiri Paccarita adalah anak kecil yang ceria dan senang berbagi banyak hal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *