"/>

Saudaranya Pasar Kalimbu

2014-01-28 09.02.43
Pedagang berbaju merah itu sedang mengurus “lapak dadakan”-nya di tepi jalan Veteran Utara

“Jangan dulu, belum pa ka’ bergaya!” seru salah seorang pedagang ketika saya hendak memotret sebuah sisi di “saudaranya pasar Kalimbu” di pagi itu.

Cepa’ mako, mau ki’ masuk Gogel ini,” seru seorang pedagang lain yang berada di dekatnya.

Waah, mereka tahu juga Google rupanya.

Pasar kaget itu terletak kira-kira 50 meter dari pasar Kalimbu. Pasar Kalimbu adalah sebuah pasar yang terhubung ke pasar Terong. Letaknya kira-kira 100 meter di sebelah utara jalan Kerung-Kerung. Awalnya saya iseng-iseng saja beli sayur-mayur di sana. Eh, ternyata harganya murah. Akhirnya saya mulai suka ke sana.

Mulanya saya ke sana sekitar pukul 10 pagi. Lalu coba-coba datang pukul 8 lewat. Berdasarkan informasi dari seorang kawan, bahu jalan Veteran Utara dipakai berjualan oleh beberapa pedagang pada awal pagi.

Benar saja. Lapak-lapak seadanya digelar di tepi jalan. Semuanya sayur-sayuran. Lapak-lapak itu berjejer masuk ke dalam hingga tembus ke jalan sebelahnya dan ke pasar Kalimbu.

Harganya murah-murah bila dibandingkan harga pa’ gandeng yang lewat di depan rumah. Wortel saja bisa dapat seharga tiga ribu rupiah per kilogram. Biasanya kalau beli di pa’ gandeng, dengan harga yang sama hanya dapat 9 buah.

Di akhir bulan Januari itu, harga tomat enam ribu rupiah per kilogramnya. Sementara di pa’ gandeng, dengan harga yang sama hanya dapat kira-kira 20 – 24 buah, ukuran kecil-kecil.

Labu kuning bisa dapat seharga lima ribu rupiah sebuah, sementara di pa’gandeng harganya kira-kira delapan ribu rupiah. Harga di pa’ gandeng kurang lebih sama dengan harga di pasar Rappocini dan pasar Buakana di dekat rumah.

Pasar kaget ini masih "bersaudara" dengan pasar Kalimbu
Pasar kaget ini masih “bersaudara” dengan pasar Kalimbu

Malah kata kawan saya, harga pada waktu subuh bisa lebih murah lagi. Wortel satu kilogramnya bisa diperoleh dengan harga seribu lima ratus rupiah! Wow! Buat ibu-ibu seperti saya, ini  seperti menemukan surga baru di tengah situasi ekonomi saat ini.

Untungnya suami saya selalu siap sedia mengantarkan ke pasar untuk berbelanja bahkan ia tak malu berbelanja sendiri jika saya sedang tak bisa keluar rumah.

Ini asyiknya tinggal di tengah kota. Mudah untuk hunting bahan-bahan murah. Lebih asyik lagi, suami saya sangat kooperatif. Ia bersedia mengantar ke mana saja saya hendak hunting, bersedia menunggu lagi. Ehm, jangan pada ngiri ya …

Makassar, 4 Februari 2014


One Response

  1. MuchtarAlim February 10, 2014

Leave a Reply