Semalam Di Rammang-Rammang

Perjalanan ke Kampung Berua

Perjalanan ke Kampung Berua

Teman-teman, pernah dengar tentang Rammang-Rammang? Sebagian mungkin pernah, tapi Pacca yakin masih ada yang belum pernah dengar atau sudah pernah dengar tapi belum pernah berkunjung ke sana.

Baiklah, sebagai pengantar Pacca akan cerita sedikit tentang Rammang-Rammang. Rammang-Rammang adalah sebuah desa yang masuk dalam wilayah Kabupaten Maros, dari kota Makassar kira-kira berjarak 37 KM sebelah utara dan bisa dicapai dalam waktu sekisar 45 menit sampai 1 jam dengan jalan darat. Apa yang istimewa dari Rammang-Rammang? Ini dia serunya. Rammang-Rammang masuk dalam kawasan karst yang membentang di Kabupaten Maros dan Pangkep. Karst adalah istilah dari bahasa Yugoslavia/Slovenia untuk gugusan bukit dari batu kapur. Uniknya lagi, kawasan karst di Kabupaten Maros dan Pangkep ini masuk sebagai kawasan karst terbesar kedua di dunia setelah karst di Tiongkok Selatan, tepatnya di Yunan.

Lalu, apa istimewanya kawasan karst ini? Bukannya itu cuma gunung-gunung batu biasa? Aduh, salah kalau kalian berpikir begitu. Kawasan karst ini punya keunikan dan daya tarik sendiri. Gugusan batu kapur yang berwarna kecoklatan itu kalau dipandangi dijamin akan menimbulkan rasa takjub luar biasa pada alam ciptaan-Nya. Luar biasanya lagi di kawasan karst ini (utamanya di Leang-Leang) dapat ditemukan sisa peninggalan manusia purba. Inilah alasan kenapa kawasan karst ini masuk dalam wilayah yang dilindungi oleh UNESCO.

Nah dari deretan panjang karst itu salah satu yang belakangan ramai dibicarakan orang adalah area Rammang-Rammang, tentu karena lebih dekat dan gampang didatangi dari kota Makassar. Di desa Rammang-Rammang kita bisa melihat gugusan karst di tengah persawahan dan pemukiman. Kalau mau lebih esktrem lagi kita bisa menyewa perahu dan menyusuri sungai hingga jauh ke dalam sambil melewati deretan karst, hutan bakau dan nipah.

Pilihan kedua itulah yang teman-teman Paccarita pilih hari Sabtu (9/8) lalu.

Ada 8 orang teman Paccarita yang memilih untuk masuk ke Kampung Berua dan menghabiskan satu malam di sana. Perjalanan dimulai dari dermaga Rammang-Rammang sekisar jam 9 malam. Suasana remang-remang terbantu oleh sinar bulan menjelang purnama yang masih tersaput awan. Sungai sedang surut malam itu dan membuat dua tukang perahu yang disewa seharga Rp. 200rb/perahu harus berjalan sangat pelan dan hati-hati kalau tidak mau tersangkut karang atau malah karam.

Sejam kemudian kami sudah tiba di Kampung Berua, sebuah kampung yang diisi 15 rumah yang terpencar satu sama lain. Di tengah perkampungan ada sawah dan empang milik warga sementara di belakang ada bukit kapur dan deretan pepohonan serta semak belukar yang berdiri rapat.

Teman-teman menuju tepian perkampungan tepat di depan bukit dan pepohonan. Di atas tanah lapang teman-teman Paccarita membuka 3 tenda dan mulai menghabiskan malam di sana. Sambil menghabiskan mie instan dan kopi teman-teman lebih banyak bertukar cerita sampai pagi tiba. Malam yang remang-remang oleh cahaya bulan itu rasanya sayang kalau hanya dilewatkan dengan tidur. Maklum, anak kota yang jarang lihat pemandangan seperti itu.

Ketika pagi tiba suasana terasa lebih menakjubkan. Pemandangan deretan bukit kapur yang ditumbuhi pepohonan berbaur dengan semburat kemerahan dari matahari yang baru bangun. Perlahan-lahan sinar matahari mulai menampakkan semua lukisan indah alam yang semalam sebelumnya tertutupi kegelapan.

Pemandangan makin terasa menyenangkan ketika kami beranjak pulang dan menyusuri sungai menuju dermaga di luar sana. Kanan-kiri penuh oleh hutan bakau, pohon nipah dan deretan bukit kapur di belakang sana. Singkatnya, perjalanan menuju dan meninggalkan Kampung Berua benar-benar sebuah perjalanan yang menyenangkan.

Perjalanan hari itu diakhiri dengan mengunjungi karst di desa Rammang-Rammang, melihat lebih dekat gua-gua yang tercipta oleh proses alami selama jutaan tahun. Semalam di Kampung Berua dan Rammang-Rammang rasanya sangat menyenangkan, sebuah pengalaman yang tentunya menerbitkan rasa takjub luar biasa pada alam ciptaan Tuhan.

Nah kalau kalian ada kesempatan datanglah ke sana, nikmati keindahan alamnya. Tapi, jangan lupa! Tetap dijaga dan dirawat ya, jangan buang sampah sembarangan, jangan merusak apapun!

Kalau belum sempat ke sana lihat dulu foto-fotonya di bawah ini. Semua ini foto jepretan dari Daeng Ipul.

Tulisan Pacca dengan memakai lampu 😀

Yang berkemah malam itu

Pagi Di Kampung Berua

Bersiap pulang

Pemandangan di perjalanan

Karst di Rammang-Rammang


About the Author

Paccarita
Paccarita adalah ikon dari komunitas blogger Makassar, Anging Mammiri Paccarita adalah anak kecil yang ceria dan senang berbagi banyak hal.

Be the first to comment on "Semalam Di Rammang-Rammang"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*