Tamu dari Jepang

Baru (kembali) jadi orang Galesong, berkat pak prof Aminuddin Salle… hehehe nenek moyang (papaku) dari sana dan bisa bahasa Makassar. Aku tidak bisa, baru mau belajar nih. Kenalkan namaku Daeng Senga hehehe

(sebuah komentar di status Facebook saya)

 

Kopdar dengan Mbak Imelda

 

Surprais!

Bagaimana saya tak terkejut. Penulis komentar di sebuah status Facebook saya itu bernama Imelda Coutrier. Sepintas lalu, dari namanya orang akan menebak, kalau bukan berdarah indo, mungkin ia bersuamikan orang bule.

Saya mengenal Mbak Imel sudah dari setahun atau dua tahun lalu. Kenal sekilas saja, dari blog walking. Pernah pula saya main dan kasih komentar ke/di posting-an blog Mbak Imel.

Dari hasil kenal sekilas itu, saya tahu kalau Mbak Imel ini tinggal di luar negeri. Tapi luar negerinya di mana, saya tidak memperhatikan dengan baik. Baru-baru ini saja (saya baru berteman di Facebook sekitar 5 bulanan) saya ngeh, kalau ia tinggal di Tokyo dan bersuamikan orang Jepang.

Mbak Imel menginformasikan, akan bertandang ke Makassar akhir Juli selama kira-kira 3 hari. Kami pun janjian untuk bertemu. Senang membayangkan hendak bertemu dengan Mbak Imel.

Akhirnya tiba juga waktu pertemuan itu. Tanggal 1 Agustus malam, saya diantar suami ke Hotel Celebes yang terletak di Jalan Sultan Hasanuddin, di mana Mbak Imel dan rombongan menginap. Mbak Imel datang bersama dua anak lelakinya – Kai dan Riku, ayahnya – bapak Paul Coutrier, dan seorang mahasiswi Jepang. Aih, senangnya ketemu muka sama Mbak Imel. Walau baru pertama kali bertemu, kami bisa ngobrol dengan akrab dan lancar.

 

Kiri: dok. pribadi Kanan atas: oleh-oleh dari Jepang. Kanan bawah: sumbernya dari Mbak Imel.

Kiri: dok. pribadi
Kanan atas: oleh-oleh dari Jepang. Kanan bawah: sumbernya dari Mbak Imel.

Kami ngobrol tentang cerita latar belakang keluarga Mbak Imel yang ada darah Galesong (Takalar, Sulawesi Selatan) dan Belandanya, tentang keluarga saya, sedikit tentang Jepang, tentang Makassar, dan tentang blog – dunia kami.

Koq bisa akrab ya? Ya bisalah. Kan pada umumnya, para blogger itu pemilik pribadi yang hangat dan ramah :).

Jarum jam terus berputar mengiringi perbincangan kami. Masih ingin berbincang dengan perempuan yang berprofesi sebagai dosen bahasa Indonesia Universitas Waseda ini tapi saya tentu harus tahu diri demi melihat kantuk di mata Mbak Imel. Agendanya yang padat selama di Makassar tentunya harus diimbangi dengan istirahat yang cukup. Maka saya pun pamit pulang.

Di teras hotel, kami masih berbincang tentang Fort Rotterdam. Sehari sebelumnya, Mbak Imel mengunjungi Fort Rotterdam. Dalam rangka memenuhi tugas sekolah Riku, ia mencari sejarah Fort Rotterdam di benteng itu. Tanya dan cari sana-sini di dalam benteng tak membuahkan hasil. “Sejarah Fort Rotterdam tidak ada, yang ada cuma sejarah Makassar. Dan tak ada guide yang bisa menjelaskan,” tutur Mbak Imel.

Waduh, sayang ya ketika ada orang dari negara lain yang menaruh perhatian akan sejarah Fort Rotterdam, sejarah itu malah tak ada di sana. Saya kemudian teringat, di rumah ada Travel Guide yang diterbitkan oleh Infomedia pada tahun 2011. Di dalamnya ada sejarah Fort Rotterdam. Baru 3 hari kemudian bisa saya tuliskan di sini. Mudah-mudahan bisa jadi pelengkap tugas Riku dan tambahan referensi bagi siapa saja yang membutuhkan:

 

Sejarah Fort Rotterdam

 

Fort Rotterdam, dok. pribadi

Fort Rotterdam, dok. pribadi

Benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Kerajaan Gowa. Pada masa pemerintahan raja Gowa ke-14, Sultan Alauddin, konstruksi benteng diperbarui dan diperkukuh dengan batu alam yang berasal dari pegunungan karst yang berada di daerah Maros.

Tampak atas, benteng ini menyerupai seekor penyu yang hendak merangkak turun ke lautan. Oleh sebab itulah, benteng ini disebut juga Benteng Panynyua. Bentuk hewan penyu yang hidup di dua alam ini seolah menjelaskan filosofi Kerajaan Gowa. Seperti penyu, Kerajaan Gowa berhasrat untuk berjaya, baik di darat maupun di lautan.

Berdasarkan perjanjian Bungayya yang ditandatangani Kerajaan Gowa pada tahun 1667,  benteng ini diserahkan kepada Belanda. Saat dikuasai Belanda itulah benteng ini berubah nama, dari Benteng Ujung Pandang menjadi Fort Rotterdam.

Dengan kekokohannya yang dilindungi dinding setebal 2 meter dan tinggi 7 meter, benteng ini kemudian difungsikan sebagai pusat pertahanan Belanda. Selain itu, benteng ini juga dijadikan sebagai pusat penyimpanan rempah-rempah di kawasan timur Indonesia.

Fort Rotterdam, dok. pribadi

Fort Rotterdam, dok. pribadi

Di setiap sudut serta pintu utamanya dibangun benteng pertahanan yang mengarah keluar seperti bentuk berlian. Sistem pertahanan berlapis ini membuat Belanda susah ditaklukkan dan mampu menguasai benteng selama ratusan tahun.

Kini, benteng yang menjadi pusat kebudayaan dan museum ini juga menjadi tempat wisata yang sering dikunjungi. Masyarakat pun berusaha menghidupkan benteng ini dengan mengadakan berbagai kegiatan di sini. Salah satunya adalah kegiatan tahunan Makassar International Writers Festival yang diadakan sejak tahun 2011 oleh Rumata’ Artspace, sebuah rumah budaya di Makassar.

Mengingat kemasyhurannya, sudah sewajarnyalah pihak pengelola Fort Rotterdam memperhatikan kelengkapan benteng sebagai situs wisata, seperti mengadakan informasi berupa sejarah berdirinya Fort Rotterdam di sejumlah ruangan di dalam benteng supaya tamu dari luar negeri seperti Mbak Imelda dan rombongannya tidak merasa kecewa mengunjunginya.

Makassar, 4 Agustus 2014


About the Author

Mugniar Marakarma
Mom blogger, freelance writer Blog: www.mugniar.com Twitter: @Mugniar E-mail: mugniarmarakarma@gmail.com

5 Comments on "Tamu dari Jepang"

  1. sedikit tambahan kak, benteng Fort Rotterdam awalnya bernama Benteng Jumpandang, dibangun pada masa pemerintahan kerajaan Gowa tahun 1545.
    Bentuk aslinya tidak seperti sekarang, barulah ketika benteng ini diambil alih oleh pemerintah Belanda benteng lama diruntuhkan hingga habis dan dibangun baru.

    arsitekturnya meniru seekor penyu. dinamakan Fort Rotterdam karena mengenang kota asal JC. Speelman, gubernur Hindia Belanda waktu itu. Nama lainnya adalah benteng Pannyua (penyu) karena bentuknya yang mirip penyu itu.

    kisah lengkap tentang benteng-benteng Gowa itu bisa dibaca di sini:
    http://makassarnolkm.com/?s=hikayat+benteng+gowa

  2. Keren Bu Mugniar.. Salam Kenal 🙂

  3. Blog pengungkap sejuta trik,rahasia dan informasi tak terduga ,
    baca DISINI :
    http://ungkap16.blogspot.com/

Leave a comment

Your email address will not be published.


*