Tribute to Pelras: Membincangkan Manusia Bugis

IMG_5788

“Christian Pelras adalah seorang peneliti yang sangat rendah hati dan ingin mendengar semua masukan dari siapa saja, hal itulah yang membuat kak Nurhady Sirimorok dan Rahman Abu terkesan kepada sosok Pelras”.

Malam itu kakak-kakak Pacca lagi mengadakan Tudang Sipulung #TSAM yang menjadi acara rutin bulanan Komunitas Blogger Makassar Anging Mammiri di Kedai Pojok Adhyaksa Makassar. Tema Tudang Sipulung malam itu adalah “membincangkan Manusia Bugis”, sebuah acara sederhana untuk mengenang mendiang Christian Pelras.

Kakak Nurhady Sirimorok membuka Tudang Sipulung malam itu dengan cerita suatu hari di tahun 2002 di sebuah daerah di Jawa tempat ia menemukan buku “The Bugis” yang membahas begitu banyak budaya bugis di dalamnya. Bermula dari situlah, kak Nurhady yang berdarah Bugis Pare-pare merasa buku ini sangat penting bagi dirinya dan banyak orang Bugis yang ingin mengenal budayanya secara mendalam. Hingga kemudian ia berfikir untuk menerjemahkan buku tersebut ke dalam bahasa Indonesia.

IMG_5790

Setelah memenuhi beberapa proses, idenyapun mendapat respon yang baik dari rekan-rekan dan penulis “The Bugis” itu sendiri, yakni Christian Pelras. Setelah melewati beberapa tahap penerjemahan, buku “Manusia Bugis” akhirnya dicetak tahun 2006. Dalam Tudang Sipulung malam itu, kak Nurhady dan kak Rahman banyak menceritakan kisah di balik proses penerjemaan buku Manusia Bugis tersebut yang dihubungkan dengan Christian Pelras, sang penulis.

Pelras memulai semuanya ketika ia melakukan penelitian terhadap tenun. Ia berangkat meneliti tenun Bugis di Malaysia dan bertemu dengan kakek Bugis, Pelras mengungkapkan ketertarikannya meneliti motif tenun Bugis pada kakek tersebut. Setelah berbincang beberapa lama bersama kakek itu, entah kenapa kakek Bugis tersebut memberikan sebuah cincin petir yang menjadi warisan turun temurun dari keluarganya kepada Pelras. Berdasarkan pemberian itulah seorang Christian Pelras menganggap ada hal yang unik dalam masyarakat Bugis, baru bertemu dan berkenalan pertama kali saja, kake yang bersuku Bugis tadi rela memberikan warisan keluarganya padanya. Berawal dari situlah Pelras mulai ingin meneliti suku besar di Sulawesi Selatan tersebut.

Kak Nurhady dan kak Rahman juga sempat dibuat terkesan oleh Pelras, hal tersebut terjadi saat melaksanakan sebuah Seminar Internasional tentang epos La galigo di Kabupaten Barru. Mereka bercerita bagaimana seorang Pelras yang berdarah Prancis ikut menyairkan elong Bugis Kuno saat Puang Matoa Bissu Saidi makkelong Sureq. Menurut mereka itu adalah sebuah hal yang unik, sangat unik, karena hampir sebagian budayawan Bugis saat ini sudah tidak mengetahui lagi bahasa Bugis kuno seperti yang dilantunkan Pelras bersama Bissu Saidi saat di Barru itu.


Sambil menenggak kopi susu dan sanggara peppe (pisang goreng yang dipipihkan hingga tipis), malam itu kakak-kakak Pacca larut dalam cerita kedua pemateri.

IMG_5793

Selain cerita kedua pemateri, malam itu Pacca pun dihibur oleh kakak @Meylancholia dari Malam Puisi Makassar yang menyanyikan lagu yang dulu sering dinyanyikan orang tua Bugis saat menidurkan anaknya dalam tojang (ayunan)

cakkaruddu atinrono 2x
matinro tudang ammao
alla nasala nippimmu

nippi magi mumalewe 2x
leweno makkawaru
alla todongi go peddi

peddi kegana mutaro 2x
kegani muppalinrung
alla tomasalle lolang

lolanno mussalleangngi 2x
sarae ri atimmu
alla aja mumadoko

madoko dokoni laoe 2x
makkale rojong-rojong
alla tori welaimmu

tori welaimmu gare 2x
tudang ritengnga laleng
alla mappaseng naterri

tori paseng tea mette 2x
tona polei paseng
alla tea makkutana

pekkogana makkutana 2x
rilaleng tennunengnga
alla napole pasetta

Setelah bernyanyi, kak @Meylancholia melanjutkannya dengan senandung syair Bugis yang membuat kakak-kakak Pacca seketika rindu akan orang tua di kampung halaman. Setelah perform kak Meylan, acara sharing dan diskusi dilanjutkan dengan membicarakan kisah di balik penerjemaan Manusia Bugis.

Pada sesi ini kak Rahman banyak bercerita pengalamannya saat menjadi penerjemah buku Manusia Bugis. Menurut kak Rahman, proses penerjemahan buku tersebut memakan waktu yang panjang dan tenaga yang banyak. Hal tersebut terjadi karena penelitian yang dilakukan oleh Pelras sangat-sangat detail tentang budaya Bugis di buku sebelumnya, The Bugis. Dalam menentukan kata Lontaraq dan Lontara’ saja membutuhkan waktu diskusi yang sangat lama, belum lagi saat membahas tenun Bugis yang banyak menghadirkan bahasa-bahasa yang susah dimengerti oleh kak Rahman.

Christian Pelras adalah penulis “Manusia Bugis” (versi inggris “The Bugis”), Pelras mulai meneliti suku Bugis pada tahun 1967. Selain meneliti Bugis beliau juga meneliti suku Bajau, Makassar, Kajang, Mandar dan Toraja. Pada tanggal 23 Juli 2014, beliau meninggal dunia dan juga meninggalkan sebuah warisan besar kepada masyarakat Bugis.


About the Author

Paccarita
Paccarita adalah ikon dari komunitas blogger Makassar, Anging Mammiri Paccarita adalah anak kecil yang ceria dan senang berbagi banyak hal.

1 Comment on "Tribute to Pelras: Membincangkan Manusia Bugis"

  1. Eventnya menarik, semoga bulan depan bisa menghadirkan event yg lebih asik, ditunggu kabarnya 🙂

Leave a comment

Your email address will not be published.


*