"/>

Walikota Makassar Seharusnya Seorang Blogger AngingMammiri

Paraikatte, tentu saja masih dalam rangkaian #SewinduAM. Setelah kak Made dan daeng Ipul, sekarang giliran daeng Rusle yang membagikan kisahnya bergabung dan berinteraksi bersama AngingMammiri. Tulisan ini agak unik, bukan karena kisahnya tapi karena penutupnya. Hmmm…sebuah tantangan atau sebuah doa? Hehehe.

Kopdar di Pantai Losari
Kopdar di Pantai Losari

Kalau bukan karena sebuah pesan di sebuah thread diskusi blogfam, mungkin saya akan sangat terlambat mengenal komunitas blogger Angingmammiri ini. Jejak itu seingat saya di bulan Juni 2006 ketika saya masih menetap dan bekerja di Balikpapan. Di salah satu thread blogfam, ada sekumpulan blogger berkumpul di kelurahan “Makassar”, membincangkan apa saja tentang kota ini. Berikutnya, bincang-bincang ini menjadi pesan berantai di inbox, email, milis dan akhirnya bersua dalam serangkaian kopdar seru baik di Makassar, ataupun di Jakarta.

Akhir 2000-an memang masa keemasan blog. Saat belum “terkalahkan” oleh maraknya micro-blogging atau orang lebih sering menyebutnya “social media”, blog menjadi media yang laris manis. Blog portal, blog-walking, lomba blog, blog review dan semacamnya pernah menjadi aktifitas wajib bagi para blogger. Saat itu, tradisi menulis tulisan panjang masih terjaga, dan tentu lebih panjang dari 140 karakter. Karena blog, banyak yang tiba-tiba menjadi penulis cerpen yang baik, ada yang gandrung menjadi penyair, atau paling tidak menjadi seorang citizen reporter. Tapi inti semuanya adalah aktifitas berbagi cerita dalam bentuk tulisan menjadi trend. Bayangkan betapa kerennya melihat anak-anak muda yang melek internet tapi juga punya kemampuan menuangkan isi pikiran nya melalui tulisan, dan dibaca oleh orang lain (dan dikomentari!). Pramoedya Ananta Toer mesti bangga dengan ini.

Namun, sebagaimana sebuah siklus produk, blog kemudian menurun intensitasnya, meski tak semua blogger kemudian berhenti menulis. Sebagian masih setia merawat “bakat” menulis itu, sebagian lain merasa sudah cukup ngeblog di facebook atau twitter, path atau instagram. Sebahagian malah melompat jauh ke dunia yang lebih serius, menjadi penulis. Ada juga blogger yang kemudian benar-benar berhenti, dan membiarkan blognya menjadi museum jejak tulisan nya di “masa lalu”.

==

Saya menjadi member komunitas Blogger Angingmammiri sejak berdirinya. Sejak ditukangi oleh ketua pertama, bu RT-nya – Rara, kemudian beralih ke Ipul DgGassing, dan terakhir oleh Made. Sejatinya sejak Angingmammiri ini berdiri, saya malah tak pernah menetap di Makassar. Interaksi saya dengan komunitas ini terawat terus karena kami terhubung oleh passion yang sama; menulis dan membincangkan kelokalan. Hingga kini passion ini masih terjaga, masih terawat, meski mungkin dengan intensitas yang berbeda.

Jejak 8 tahun adalah jejak yang panjang. Kalau dalam dunia teknologi, tentu 8 tahun sudah dianggap matang, dan sebagaimana sebuah produk tentu selalu mesti mengalami daur ulang agar tetap bisa kompatible dengan zaman. Teman-teman yang kini mengurusi komunitas blogger ini bukan saja dituntut untuk kreatif menjaga passion, tapi juga mau tak mau menjadi lebih terbuka lagi. Salah satu yang membuat komunitas ini tetap eksis di masa sekarang (saya tak yakin “semua” komunitas blogger lokal lainnya masih ada), adalah kekuatannya menjalin network dengan lintas komunitas yang lain. Ibarat sebuah mozaik, keping-keping dari berbagai macam terhimpun membentuk gambar sempurna.

Saya membayangkan, bahwa dengan bakat menjalin keping-keping berbeda ini menjadi sebuah modal kuat bagi seseorang untuk menjadi politisi atau pejabat publik yang baik. Kita kekurangan pejabat dan politisi yang bisa menjadi lem untuk masyarakatnya, bisa merekatkan semua elemen berbeda. Yang banyak adalah mereka yang hanya mahir berjanji ketika musim kampanye, rela mengotori ruang publik dengan foto-foto dan jargon mereka, tapi sejatinya tak pernah “hidup” bersama dengan orang-orang yang mereka sedang rayu. Di masa depan, calon walikota Makassar hendaklah seorang blogger Angingmammiri, atau setidaknya berguru ke komunitas ini.

Selamat ulang tahun Angingmammiri!

 

Daeng Rusle; seorang blogger aktif yang sekarang bermukim di Abu Dhabi, UEA. Sehari-harinya mengaku sebagai kuli di sebuah perusahaan minyak di jazirah Arab. Beliau aktif menulis tentang budaya, sejarah, keseharian dan apa saja di blog pribadinya daengrusle.net. Beliau juga dapat dihubungi di akun Fbnya: Muhammad Ruslailang Noertika atau simak kicauannya di @daengrusle.


Leave a Reply