Kartu Pos dari Jepang

Tadinya saya ingin menuliskan ini sesegera mungkin, tepatnya di bulan November tapi rupanya ada rangkaian kegiatan ulang tahun Anging Mammiri. Tidak enak rasanya kalau tiba-tiba nyelip posting-an ini. Akhirnya tentang kartu pos dari Jepang ini saya simpan dulu sampai pagi-pagi ini saya teringat kembali ketika menelusuri folder tempat penyimpanan gambar/foto di komputer saya.

Kalau di posting-an yang lalu saya bercerita tentang Tamu dari Jepang yang merupakan tamu saya maka kali ini saya bercerita tentang Kartu Pos dari Jepang yang bukan untuk saya. Kartu posnya berasal dari Kak Imelda – tamu saya dari Jepang tempo hari. Tetapi kartu-kartu pos yang ia kirimkan sesampainya di Jepang ini untuk putri saya – Athifah, bukan untuk saya.

Mungkin karena saya sering bercerita tentang Athifah di Facebook dan di blog maka Kak Imelda tergerak mengirimkan kartu pos untuk putri mungil saya yang  ceriwis ini. Betapa senangnya Athifah membaca kartu pos pertama yang diterimanya dan melihat gambarnya. Pada kartu pos itu tertera namanya dan pesan yang tertulis di situ untuknya!

Kartu Pos

Teringat mimik wajahnya ketika mencicipi permen dari Jepang yang tempo hari diberikan oleh Kak Imelda. Menerima itu saja dia sudah senang.

Kegembiraannya bertambah ketika kemudian ia mendapatkan lagi sebuah kartu pos. Dengan bersemangat, Athifah menuliskan kata-katanya sendiri pada sebuah kartu pos bergambar sebuah sisi dari Fort Rotterdam. Ia menceritakan tentang sekolahnya dan memberikan pertanyaan kuis kepada Tante Imelda. Sebuah pertanyaan Matematika, tentang perkalian.

Kepada kerabat kami yang berkunjung, dipamerkannya kartu-kartu posnya itu.

“Kartu pos,” ujarnya semringah.

“Dari Tante Imelda, temannya Mama,” begitu jawabannya jika ada yang bertanya siapa pengirimnya.

Pernah suatu ketika, Athifah hampir tak bisa menemukan kartu-kartu posnya. Dia kalang kabut mencarinya.

“Untuk apa sih?” tanya saya.

“Mau dikasih liat sama tamu,” jawabnya.

Akhirnya kartu pos itu ketemu juga, di tempat biasanya disimpan hanya letaknya terselip di antara barang-barang lain. Tetapi tamunya sudah naik di kendaraan, sudah berpamitan. Athifah terpaksa hanya bisa memegang kartu-kartu posnya di beranda rumah kami sembari memandangi mobil sang tamu bergerak perlahan meninggalkan rumah kami.

Saya tersenyum memperhatikan tingkahnya. Ngeblog ternyata bukan hanya menghasilkan manfaat yang luar biasa besar bagi saya. Athifah pun merasakannya.

Makassar, 29 Desember 2014


About the Author

Mugniar Marakarma
Mom blogger, freelance writer Blog: www.mugniar.com Twitter: @Mugniar E-mail: mugniarmarakarma@gmail.com

3 Comments on "Kartu Pos dari Jepang"

  1. Wah aku jadi pengen juga deh dapet kartupos dari luar 🙁

  2. Penuh kenangan kartu postnya yah 🙂

  3. waaah jadi pengen ke jepangnya langsung nih

Leave a comment

Your email address will not be published.


*