Tulisanmu, Harimaumu!

“Hati-hati Niar. Kau penulis dan pengkritik. Hati-hati. Suatu saat Allah pasti mengujimu, apakah Kau bisa mendidik anak-anakmu dengan baik atau tidak!” tatapan pak tua itu menghunjam seluruh persendian tubuh saya.

Lidah saya kelu. Badan saya menegang.

Tapi saya tak mengingkari perkataannya. Saya tahu, ia benar. Dan saya tahu apa yang dikatakannya itu niscaya terjadi pada saya. Malah lebih daripada itu. Saya pernah diuji Allah setelah menulis. Allah menguji, apakah benar saya bisa mendidik anak-anak saya sesuai dengan apa yang saya tuliskan. Padahal saya baru saja berhasil melalui sebuah ujian dan menuliskannya namun DIA menguji saya kembali. Bisa saja DIA akan terus menguji saya dengan berbagai hal selain yang berkenaan dengan anak-anak. Karena saya memang tak pernah bisa diam. Saya masih saja suka menuliskan hal-hal yang tak berkenan dengan hati dan pikiran saya.

Saya tak sakit hati dengan perkataan pak tua yang akrab disapa Pak Haji itu. Sebelumnya, ia memang kerap menasihati saya dan suami saya tentang bagaimana mendidik anak dengan baik dan bagaimana menghadapi banyak hal dalam kehidupan ini. Saya dan suami bahkan menganggapnya seperti guru kami. Apa-apa yang dikatakannya menjadi bahan introspeksi diri. Posisi Pak Haji netral. Ia bukan kerabat kami. Kami dipertemukan Allah dalam suatu peristiwa hingga akhirnya kami bisa akrab dengannya. Hingga kami bisa memercayakan segala permasalahan hidup untuk membantu mencarikan solusinya. Selama ini, nasihat-nasihatnya bisa membuat kami bercermin dan berdampak baik ketika kami melaksanakannya.

“Ketiga anakmu punya kekurangan dalam sifat. Kalau tidak bisa hadapi dari sekarang, Kalian akan setengah mati. Tegas pada anak memang tidak enak tapi Kalian harus berani melawan diri sendiri!” tatapan tajam mata Pak Haji menatap saya dan suami secara bergantian.

Tulisanmu harimaumu

Saya tahu maksudnya. Anak-anak, kalau terlalu dimanjakan akan berakibat buruk kelak. Mereka akan seenaknya. Dan semakin besar usia mereka, akan semakin sulit mengaturnya. Kalau di masa kecilnya saja kami tak bisa mengatur mereka, lebih-lebih lagi ketika dewasa.

Pak Haji ini tahu banyak mengenai sifat saya dan suami, juga sifat ketiga anak kami. Ia bagaikan paman bagi saya. Kata-katanya tidak pernah bertendensi apa-apa, selain  mengharapkan kami menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Nasihat-nasihat yang diberikannya tak mendatangkan keuntungan apapun baginya. Sebaliknya bagi kami, nasihat-nasihat itu sungguh berharga.

Dan tentang penulis dan pengkritik itu. Aih. Saya harus berbenah diri lagi. Ia menyebut saya pengkiritk karena pernah saya perlihatkan kepadanya opini saya yang dimuat di sebuah media lokal. Opini yang menyinggung beberapa sekolah yang mengharuskan siswa-siswinya melakukan hal yang menurut saya bertentangan dengan bagaimana seharusnya sekolah berperan.

Pada perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, beberapa sekolah dasar hingga sekolah menengah atas di kota ini mewajibkan siswa-siswinya membawa pernak-pernik perayaan Maulid seperti yang biasa diadakan pada perayaan Maulid secara tradisional di masyarakat (selengkapnya bisa dibaca di sini).

Setiap murid harus membawa wadah berisi makanan khas yang disajikan pada perayaan tersebut. Ada ka’do’ minynya’ atau songkolo’ (terbuat dari beras ketan) beserta aneka lauknya hingga telur rebus yang diletakkan pada wadah yang dikaitkan pada batang-batang kayu. Seperti wadah utamanya, batang-batang kayu yang diameternya tiga kali lebih besar daripada diameter lidi ini pun harus dihias dengan kertas warna-warni, begitu pun wadah yang dicantolkan di atasnya harus pula dihias.

Tentu butuh waktu lama bila harus mengerjakannya sendiri, pun perlu sejumlah modal. Kalau tak mau repot, sepanjang bulan Rabi’ul Awal, di pasar-pasar banyak dijual wadah-wadah dan batang-batang kayu yang sudah dihias. Ukuran dan bentuknya beraneka rupa. Harganya pun beragam. Mulai dari dua puluhan ribu rupiah hingga ratusan ribu rupiah. Tinggal pilih dan bayar.

Beberapa sekolah menyampaikan kepada murid-muridnya bahwa “karya” mereka akan dinilai. Seorang guru sekolah dasar bahkan berkata, “Harus pakai ayam goreng!” Yang wadah dan makanannya paling bagus tentu saja akan mendapatkan nilai paling bagus. Dan bisa saja yang paling bagus setara dengan uang ratusan ribu rupiah. Orang tua murid pun berlomba-lomba membeli wadah-wadah dan mengisi dengan makanan yang paling enak demi memperoleh nilai terbaik bagi anak-anak mereka.

Bagaimana saya bisa tinggal diam melihat ini semua? Kemampuan saya hanyalah menulis. Maka saya membuat tulisan tentang itu, mengirimnya ke media lokal, dan selang beberapa hari kemudian tulisan saya pun dimuat.

Saya perlihatkan tulisan itu pada Pak Haji. Sembari menyerahkan koran, saya berkata, “Alhamdulillah tulisan Saya dimuat di sini, Pak. Honornya tidak besar tapi koran ini banyak yang baca. Dengan demikian Saya bisa semakin dikenal.”

Pak Haji tahu sekali saat-saat saya mulai merangkak di dunia kepenulisan empat tahun lalu. Selain suami, ia selalu memberikan support-nya bahkan ketika Ibu menentang aktivitas menulis saya. Ia selalu meyakinkan saya untuk meneruskan aktivitas menulis. Maksud saya memperlihatkan tulisan saya di koran itu agar ia mengetahui pencapaian saya sejauh ini.

Usai membaca tulisan saya itu, Pak Haji berkata, “Kalau Saya menyukai tulisanmu. Karena tradisi seperti itu hanya menimbulkan kemubaziran di mana-mana. Tapi pasti sejumlah orang tidak menyukai kritik seperti ini. Terutama penggerak Islam tradisional yang menyukai penyelenggaraan perayaan Maulid. Hati-hati! Sebelum menulis, berdo’alah pada Allah agar tulisan yang Kau hasilkan mendatangkan manfaat bagi pembacanya. Bukan semata agar Kau dikenal orang saja!”

Deg.

Saya tertegun. Iya benar. Saya harus melakukan itu. Berdo’a agar tulisan saya mendatangkan manfaat kepada pembaca. Supaya saya tak terjebak pada keinginan untuk mendapatkan popularitas.

Sejauh ini saya merasa sudah berusaha memperbaiki diri agar tak kebablasan dalam menulis kritik ataupun kiat/tip yang kemungkinan bisa berbalik kepada saya dalam bentuk ujian berat Jujur saja, saya sebenarnya takut. Tapi sama sekali tak menulis kritik juga tak mungkin karena seorang muslim sebisa mungkin sebaiknya mencegah kemungkaran atau berusaha memperbaiki keadaan. Sebagai manusia biasa, mungkin saja secara tak sengaja saya melakukan kelalaian. Kalau suatu saat Kalian mendapati saya lalai, tolong tegur saya, ya?

Makassar, 24 Juni 2015

 


About the Author

Mugniar Marakarma
Mom blogger, freelance writer Blog: www.mugniar.com Twitter: @Mugniar E-mail: mugniarmarakarma@gmail.com

3 Comments on "Tulisanmu, Harimaumu!"

  1. Yaa,, menegur dan mengkritik kadang terlupa setelahnya tetapi yang dikritik malah menyimpannya dengan baik dan akan mengembalikannya kelak di saat kita melenceng sedikit dari apa yang justruu pernah kita ucapkan.

  2. tulisan pengingat dan pencerah, makasih Mbak

Leave a comment

Your email address will not be published.


*