Perempuan Menulis di Era Digital

“Ilmu itu seperti buruan, dan tulisan seperti ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Di antara bentuk kebodohan adalah ketika kau berhasil menangkap kijang namun membiarkannya bebas tanpa diikat.” – Imam Syafi’i

Mengikat ilmu yang dilakukan banyak orang pada era digital adalah menulis dengan memanfaatkan teknologi komunikasi-informasi. Keberadaan tulisan langgeng, selama dunia maya ada, siapa pun bisa menemukannya dengan mudah menggunakan search engine.

Dalam perjalanan sebagai bloger, saya menyaksikan banyak perempuan inspiratif. Mereka memberdayakan diri melalui menulis – ada yang bahkan berhasil memberdayakan orang-orang lain. Contohnya para pendiri komunitas (seperti Ibu-Ibu Doyan Nulis, Kumpulan Emak-Emak Blogger, Blogger Perempuan, Indonesian Hijab Blogger, Blogger Muslimah, dan Indonesian Female Blogger).

Contoh lainnya adalah yang dilakukan oleh pendiri Lembaga Mitra Ibu dan Anak (LemINA). LemINA adalah sebuah organisasi non pemerintah yang bergerak dalam bidang kesejahteraan ibu dan anak khususnya di kawasan kumuh dan miskin di Makassar dan Sulawesi Selatan. Lembaga ini menerapkan metode menulis bagi para relawannya. Para relawan didorong untuk terbiasa menulis di blog pribadi, website lembaga, hingga newsletter dan buku praktik cerdas sanitasi. Dari yang sebelumnya tak terbiasa menulis, beberapa relawan menjadi terbiasa dan menggunakan blognya untuk merekam pengalaman selama menjadi sukarelawan.

Para relawan dari lembaga yang sudah berusia 7 tahun ini juga mengajarkan menulis kepada anak-anak sekolah dasar binaannya dan menulis di blog bagi guru. Menurut Andi Bunga Tongeng – salah satu pendiri LemINA, tujuan ditekankannya menulis bagi relawan adalah agar praktik sukarela dalam lembaga itu bisa lebih tersebar luas dan bisa direplikasi oleh pihak lain di lokasi lain. Alhasil, nyaris semua kegiatan mereka dalam bidang kesehatan, pendidikan, sosial, lingkungan hidup, informasi-komunikasi, dan sebagainya yang mempunyai keterkaitan dengan kualitas hidup ibu dan anak terdokumentasi baik sehingga siapa pun bisa mengambil manfaatnya.

 

Tak kalah menariknya, kegiatan menulis yang dilakukan oleh ibu-ibu yang tergabung dalam Institut Ibu Profesional (IIP). Komunitas yang didirikan tanggal 22 Desember 2011 di kaki gunung Merbabu, Salatiga ini kini sudah merambah pemberdayaan ibu-ibu di 45 titik simpul kota/kabupaten seindonesia dan menyebar ke 4 negara. Dengan keyakinan bahwa mendidik satu ibu sama dengan mendidik satu generasi, pendirinya – Septi Peni Wulandani kini bersama para pengurus mengedukasi anggotanya. Sebagian besar proses belajar dilaksanakan menggunakan internet, melalui grup WA (Whatsapp) dan Google Classroom.

“Di IIP semua dilatih untuk bisa menulis. Karena jenjang belajarnya yang dimulai dari kelas Matrikulasi, tugas dalam bentuk NHW (Nice Homework) harus disetor dalam bentuk tulisan. Begitu pula pada level selanjutnya (Kelas Bunda Sayang), para peserta diminta menulis tantangan pada setiap level selama minimal 10 – 17 hari. Adapun tema tulisan berkaitan dengan materi yang diperoleh dan hasil pengamatan terhadap diri dan keluarga (suami dan anak). Di IIP, para bunda yang dulunya tidak pernah menulis akhirnya berlatih dan disiplin menulis,” Ina Sinardi – Ketua IIP Sulawesi, sekaligus Ketua Rumbel (Rumah Belajar) Menulis IIP Sulawesi menuturkan kepada saya via wawancara WA.

Komunitas ini sungguh-sungguh memanfaatkan teknologi. Tugas yang disetor harus berupa link tulisan maka diharapkan anggotanya terbiasa menulis di blog. Dalam kurikulum dan jenjang yang tertata rapi, para ibu belajar banyak hal, seperti: 1. Melatih dan mengembangkan keterampilan dasar anak. 2. Pelatihan dalam mengembangkan potensi diri perempuan sebagai individu, ibu, dan istri. 3. Pembekalan Ilmu dan keterampilan dalam mengelola finansial keluarga dan kewirausahaan. 4. Pembekalan ilmu dan keterampilan dalam meningkatkan kualitas spiritual.

Dengan menulis, mereka terbiasa mengikat pengetahuan yang diperolehnya selama proses belajar. Tak mudah dilupakan karena harus dilakukan dan ditulis. Menuliskannya di blog, ilmu pengetahuan yang “diikat” akan abadi dan berguna bagi ibu-ibu lain di luar IIP karena siapa pun bisa mengaksesnya dengan mudah.

Di zaman sekarang, menulis memang tak perlu dipatok hanya boleh di atas kertas. Selain blog, bentuk lain yang bisa dijajal adalah buku elektronik (ebook). Sebagian penerbit menerbitkan buku cetakan bersamaan dengan ebook-nya. Kepemilikan ebook diklaim selamanya oleh mereka. Berbeda dengan buku cetakan yang kerja samanya dalam jangka waktu tertentu dengan penulis.

Khusus ebook, sebenarnya siapa pun bisa menerbitkannya sendiri. Sudah banyak orang menerbitkan ebook, untuk kepentingan bisnis maupun dibagikan gratis karena diniatkan untuk berbagi pengetahuan. Dua tahun lalu, bersama Pungky Prayitno – kawan bloger dari Purwokerto, saya menyusun ebook mengenai post partum depression (depresi pasca melahirkan). Kami membagikannya gratis kepada yang berminat melalui email hingga kini.

Perkembangan teknologi sudah demikian memudahkannya untuk menulis dan menebar kebaikan. Dengannya, jangkauan tulisan mampu menembus sekat wilayah dan waktu. Bagi kaum muslim yang meyakini pentingnya amal jariyah di akhirat, mereka meyakini bahwa dengan perangkat teknologi komunikasi dan informasi, kegiatan menulis menjadi lebih mudah sebagai ladang amal jariyah-nya.

Makassar, 23 Desember 2017

 

Selamat berkarya, para perempuan, jadilah berdaya melalui tulisan. Selamat Hari Ibu.

Baca juga tulisan saya yang diterbitkan di koran kemarin, yah:

Tantangan Perempuan Menulis di Era Digital


About the Author

Mugniar Marakarma
Mom blogger, freelance writer Blog: www.mugniar.com Twitter: @Mugniar E-mail: mugniarmarakarma@gmail.com

3 Comments on "Perempuan Menulis di Era Digital"

  1. Perempuan berjejak lewat tulisan di media digital, agar lebih banyak yang bisa belajar dan mengambil manfaat dari tulisan-tulisan mereka

  2. Benar sekali. Sekaligus kita bisa berperan memperbanyak konten positif di dunia maya.

  3. mba mugniar ternyata dari makssar ya. tapi sayang blog ini lama ga diupdate, kenapakah?

Leave a comment

Your email address will not be published.


*