• Artikel,  Umum

    Cara Kreatif Menulis Bagaikan Membuat Resep Masakan

    Kreatif menulis bagaikan membuat resep masakan ini istilah yang saya karang-karang sendiri. Iya, kan kalau dianalogikan bisa demikian. Tulisan itu kan pada dasarnya terdiri dari 26 huruf saja dari A sampai dengan Z. Topiknya yang bisa beragam. Tapi kita, sebagai penulis blog alias bloger bisa saja memodifikasi tulisan dari tulisan lain bagaikan para chef yang menciptakan resep masakan sendiri berdasarkan resep-resep masakan yang sudah pernah ada. Kalau dipikir, untuk resep masakan rumahan misalnya, bumbunya kan itu-itu saja. Katakanlah resep pallumara. Dari yang resep umum saja, dengan bumbu bawang merah, bawang putih, asam, dan kunyit serta garam secukupnya bisa dikreasikan menjadi bentuk masakan ikan lainnya. Misalnya dengan memberikan bumbu sereh, tomat,…

  • Artikel,  Umum

    Perempuan Menulis di Era Digital

    “Ilmu itu seperti buruan, dan tulisan seperti ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Di antara bentuk kebodohan adalah ketika kau berhasil menangkap kijang namun membiarkannya bebas tanpa diikat.” – Imam Syafi’i Mengikat ilmu yang dilakukan banyak orang pada era digital adalah menulis dengan memanfaatkan teknologi komunikasi-informasi. Keberadaan tulisan langgeng, selama dunia maya ada, siapa pun bisa menemukannya dengan mudah menggunakan search engine. Dalam perjalanan sebagai bloger, saya menyaksikan banyak perempuan inspiratif. Mereka memberdayakan diri melalui menulis – ada yang bahkan berhasil memberdayakan orang-orang lain. Contohnya para pendiri komunitas (seperti Ibu-Ibu Doyan Nulis, Kumpulan Emak-Emak Blogger, Blogger Perempuan, Indonesian Hijab Blogger, Blogger Muslimah, dan Indonesian Female Blogger). Contoh lainnya adalah…

  • Artikel,  Umum

    Tulisanmu, Harimaumu!

    “Hati-hati Niar. Kau penulis dan pengkritik. Hati-hati. Suatu saat Allah pasti mengujimu, apakah Kau bisa mendidik anak-anakmu dengan baik atau tidak!” tatapan pak tua itu menghunjam seluruh persendian tubuh saya. Lidah saya kelu. Badan saya menegang. Tapi saya tak mengingkari perkataannya. Saya tahu, ia benar. Dan saya tahu apa yang dikatakannya itu niscaya terjadi pada saya. Malah lebih daripada itu. Saya pernah diuji Allah setelah menulis. Allah menguji, apakah benar saya bisa mendidik anak-anak saya sesuai dengan apa yang saya tuliskan. Padahal saya baru saja berhasil melalui sebuah ujian dan menuliskannya namun DIA menguji saya kembali. Bisa saja DIA akan terus menguji saya dengan berbagai hal selain yang berkenaan dengan…