• Budaya,  Gathering,  Kegiatan,  Kolaborasi,  Makassar,  Tudang Sipulung

    Tribute to Pelras: Membincangkan Manusia Bugis

    “Christian Pelras adalah seorang peneliti yang sangat rendah hati dan ingin mendengar semua masukan dari siapa saja, hal itulah yang membuat kak Nurhady Sirimorok dan Rahman Abu terkesan kepada sosok Pelras”. Malam itu kakak-kakak Pacca lagi mengadakan Tudang Sipulung #TSAM yang menjadi acara rutin bulanan Komunitas Blogger Makassar Anging Mammiri di Kedai Pojok Adhyaksa Makassar. Tema Tudang Sipulung malam itu adalah “membincangkan Manusia Bugis”, sebuah acara sederhana untuk mengenang mendiang Christian Pelras. Kakak Nurhady Sirimorok membuka Tudang Sipulung malam itu dengan cerita suatu hari di tahun 2002 di sebuah daerah di Jawa tempat ia menemukan buku “The Bugis” yang membahas begitu banyak budaya bugis di dalamnya. Bermula dari situlah, kak…

  • Budaya,  Kolaborasi,  Makassar

    10 Perempuan dalam Bingkai Rumata’

    22 April pagi itu Rumata’ Artspace, sebuah Rumah Budaya di Makassar tampak lengang. Hanya ada kami sekeluarga yang melihat-lihat pameran seni yang menampilkan karya 10 perempuan. Kira-kira separuh bagian dari bangunan yang didominasi warna abu-abu itu dijadikan galeri yang memajang aneka karya seni. Pameran bertajuk “Mother. Daughter. Sister. An Endless Conversation” berlangsung dari tanggal 19 April hingga 19 Mei 2014 di sana. Kesepuluh perempuan yang berpartisipasi di sana adalah Anggraini Herman, Citra Ramadhani, Eka Besse Wulandari, Dini R. Hapsari, Ina Waloni, Ni Nyoman Anna Marthanti, Rania Zumadi, Tenri Pakkua Bungawalia, Ulfa Faisal, dan Yulianti Tanyaji. Di dekat daftar tamu yang mesti diisi oleh setiap pengunjung, terdapat daftar profil kesepuluh perempuan…

  • Budaya,  Kuliner,  Makassar

    Si Hitam Manis Dari Bugis

    Hari pertama masuk kantor selepas libur Idul Fitri. Seperti biasa, semua orang saling bersalam-salaman, memohon maaf dan saling memaafkan. Tak lupa bertukar cerita seputar perayaan Idul Fitri. Seorang teman yang baru saja mudik dari kampung halaman menyodorkan beberapa biji tape ketan hitam, kontan air liur saya terasa membasahi rongga mulut. Tape ketan hitam adalah salah satu panganan favorit saya yang biasanya banyak beredar di seputaran Idul Fitri. Orang Bugis-Makassar menyebutnya tape saja, sementara orang Jawa biasa menyebutnya tape ketan hitam karena di beberapa tempat di Jawa, tape berarti singkong yang diragi. Di Makassar, singkong yang diragi itu disebut poteng. Tape ketan hitam- atau yang selanjutnya disebut tape saja – adalah…