MENCATAT MAKASSAR LEWAT SEBUAH BUKU
Judul Buku : Makassar dari jendela pete-pete : catatan seorang pengguna jalan
Penulis : Winarni K.S
Penerbit : Panyingkul, 2009.
Apa jadinya jika ada seorang anak muda, mahasiswa jurusan arsitektur, senang menulis, punya blog dan selalu berpikir kritis kemudian mendapatkan saluran yang tepat untuk semua buah pikirannya ? sebuah buku tentu saja. Dan inilah yang terjadi pada Winarni K.S, seorang mahasiswi jurusan arsitektur yang senang menulis, punya blog dan akhirnya punya buku sendiri.
Inart (begitu dia biasa disapa) adalah seorang mahasiswi yang kritis. Berbekal ilmu yang diserapnya selama kuliah dia membandingkan antara teori dengan praktek yang didapatinya di lapangan. Dia mencatat banyak hal tentang kota Makassar yang sangat diakrabinya. Banyak hal yang dia catat, sebagian besarnya adalah tentang bagaimana timpangnya perkembangan kota yang tidak sesuai dengan ilmu yang dipelajarinya.
Lewat buku yang dominan bersampul biru ini, Inart banyak menulis tentang berbagai aspek tata kota yang dirasakannya selama ini. Inart mencatat tentang perubahan yang terjadi pada daerah Panakkukang, daerah yang dulunya hanya berupa rawa dan lahan tak produktif yang kini telah berubah menjadi primadona kawasan bisnis. Inartpun mencatat tentang berbagai perubahan mendasar yang terjadi pada kota Makassar. Tentang mall yang terus bertambah, tentang ruko yang tumbuh tak terkendali, tentang jumlah pete-pete yang terus membengkak dan tidak seimbang dengan jumlah penumpang dan tentang apa saja, bahkan tentang nasib para pejalan kaki yang makin terpinggirkan dan trotoarnya hilang direnggut pihak lain.
Inart tidak hanya sekedar mencatat dan berkeluh kesah, Inart menyajikan banyak data dan fakta dalam tulisan-tulisannya sehingga buku ini juga bisa menjadi rujukan bagi mereka yang ingin belajar tentang tata kota ataupun orang-orang yang sekedar ingin tahun tentang perkembangan kota Makassar.
Bukan hanya masalah-masalah berat yang jadi pokok tulisan Inart, beberapa hal yang bersifat ringan dan personalpun dibahasnya. Simak tulisan tentang makin sempitnya lahan untuk bermain layangan yang memaksa anak-anak bergeser ke jalan raya hanya untuk sekedar menerbangkan layang-layangnya. Inartpun tak lupa menuliskan keresahannya tentang jati diri para remaja yang mungkin makin terkikis karena ramainya ikon-ikon produk modern yang sepenuhnya adalah produk import. Tak lupa Inartpun bercerita tentang sebuah pusat perbelanjaan baru yang tumbuh di tengah kawasan yang dulunya diperuntukkan sebagai kawasan pendidikan. Meski tak langsung namun dalam tulisan itu Inart terlihat kuatir akan dampak yang mungkin terjadi pada para pelajar dan mahasiswa di sekitar pusat perbelanjaan tersebut.
Dalam setiap tulisannya Inart seakan membuka sebuah ruang dialog yang luas dengan kita para pembacanya. Inart mengajak kita merenungi arah perkembangan kota Makassar, mempertanyakan banyak hal terkait perubahan dan perkembangan tersebut dan mungkin sebagian orang akan tertantang untuk mendebat atau minimal mendiskusikan isi catatan Inart.
Bagi saya Inart adalah seorang mahasiswa yang cerdas, dia berhasil membuka sebuah ruang baru untuk sebuah diskusi dan perenungan tentang nasib kota Makassar, kota yang diakrabinya setiap hari. Namun di sisi yang lain Inart juga memancing para pembacanya yang bukan warga kota Makassar untuk ikut merenungi arah perkembangan kota mereka, membandingkan perkembangan kota mereka dengan kota Makassar yang dicatat oleh Inart.
Karenanya tanpa ragu-ragu saya bisa mengatakan kalau buku ini adalah sebuah buku yang pantas menjadi rujukan untuk para warga kota di mana saja berada, bukan hanya mereka yang tinggal dan akrab dengan Makassar.
Inart yang seorang mahasiswi kritis, senang menulis dan seorang blogger baru saja menggunakan haknya sebagai warga kota. Dia mencatat tentang kotanya, mempertanyakan banyak hal dan meresahkan banyak hal. Tulisan Inart di buku ini suatu saat akan jadi monumen yang abadi untuk kota ini, kota Makassar yang kita cintai. Saat menutup buku ini kita pasti akan kesulitan menjawab pertanyaan, benarkah Makassar sudah lebih maju, lebih modern dan sekaligus lebih nyaman dan manusiawi ? Sebuah pertanyaan yang jawabannya masih bisa kita perdebatkan.
Related posts:
wehhh,anak teknik jadi penulis.bakat luar biasa cappo.sering naik pete-pete kampus pastinya banyak pengalaman.mulai dari daeng sopirnya yang galak-galak bila kurang bayarannya sampe cewek-cewek sibuk gosip dan ketawa ketiwi membahas cowoknya masing-masing.tidak perduli kalau yang mendengar jadi cemburu.he..he..
makassar nun jauh disana.rindu coto pintu satu unhas,ubi dan sarabba pintu duaunhas.kapan lagi bisa kembali.
salam kenal buatblogger makassar.
sayang saya belom baca bukunya
kata Inart bukunya habis
:(
hmm…
pre-reading, buku ini adalah, meski ditulisa oleh warga biasa, namun potret yang disajikan dalam bentuk tulisan adalah hasil penalaran luar biasa mengenai tata kota makassar.
Kita bisa terkagum bangga dgn lingkungan makassar yang semakin maju dari tolak ukur bangunan beton dimana-mana, tapi bisa juga dipaksa sedih bahwa banyak yang hilang – tapi mestinya ada – ruang-ruang yang sejatinya adalah hak publik. Maksud Buku ini ditulis tentu tidak berhenti hanya untuk dibaca saja, tapi untuk bergerak memoles kota tercinta ini sesuai level kita masing2.
Terima kasih review nya daeng
Sayang sekali buku ini sudah habis padahal masih banyak yang ingin baca.
Mudah-mudahan bisa dicetak lagi.
“Karena Kota ini milik Kita”
wahh.. .buku yg bagus meski sy blum baca… judulnya itu lho.. makassar dari jendela pete pete wkkk….. ada versi e-book?
saya punya satu yg belum dibuka. dulu sengaja beli dua buat diberikan ke siapapun yg mau. Kalo ada yg berminat hubungi sayah saja via email yg sayah cantumkan ini :)
Worth to read lah pokoknya.
Wah, hebat… anak FT UH sdh bs buat buku sndri… dan udah dibedah dlm Event FLP Unhas
smoga trus eksis berkarya ya, buat penulisnya…
saya juga sdh pesan tapi katanya stoknya habis…berharap suatu saat bisa punya dan koleksi….hidup bang oma..eh kk inart…
Bagus juga tuh bukunya. Semoga penulisnya tetap produktif !!
kerennn…tapi blum baca
alow saya jocobain saya banyak menulis artikel2 di Pc saya dan rencana ingin saya buat buku
problemnya saya masih bingung ingin menerbitkannya lewat media mana ya? pleas masukannya
profil: lahir Ujung Pandang 28 0ktober 1982
pendidikan semua di makassar sampai D3 Arsitektur di UNHAS angk. 02-06
S1 di UGM Yogyakarta
Tekad dan cita-cita: memajukan Arsitektur Lokal Makassar dan membngun semngat membaca untuk Makassar yg lebih baik dan berkembang menurut budaya lokalnya
Ewako Makassar
apa sudah ada terbitan berikutnya…?
paging kak inart