Ngeblog-lah, dan nama Anda terancam abadi!
Kartini meninggal dalam usia teramat muda, 25 tahun. Namun, jejak hidup yang ditinggalkannya; surat-surat berisi buah pikirannya yang maju melampaui zamannya dikemudian hari mentahbiskan dirinya menjadi pahlawan. Christina Martha Tiahahu, gadis Saparua pemberani itu malah jauh lebih muda, 18 tahun ketika meninggal di atas kapal pembuangan VOC akibat mogok makan. Raden Inten II, raja Lampung tewas di bunuh VOC ketika berusia 22 tahun. Wolter Monginsidi tewas di ujung peluru regu penembak Belanda di usianya yang ke-24. Panglima Besar Sudirman meninggal akibat kanker paru di usia 34 tahun di masa gerilya. Yang termuda yang tercatat walau belum diakui sebagai pahlawan, Ade Irma Suryani Nasution, 5 tahun, tewas tertembus peluru Cakrabirawa sebagai perisai ayahnya. Yang lebih modern, pahlawan Tritura dan Reformasi, umumnya tewas saat berusia 20-an tahun.
Mereka semua adalah pahlawan bangsa, yang artinya bahwa jasanya sedemikian besar bagi perjalanan sejarah perjuangan bangsa Indonesia mencapai cita-citanya, kemerdekaan, walau kenyataannya usia mereka masih sangat muda dibanding rata-rata penduduk Indonesia. Jejak hidup mereka terpatri dalam di lembaran sejarah sedalam kecintaan mereka akan bangsa ini.
Tentunya kepahlawanan mereka menjadi inspirasi bagi generasi setelahnya untuk turut unjuk membangun bangsa besar ini, sayangnya tak banyak buah pikiran mereka bisa kita baca dan jadikan narasumber. Bahkan banyak yang justru terasa asing bagi kita. Beberapa diantara kita mungkin malah tidak pernah mendengar nama pahlawan ini; La Maddukelleng, Pongtiku, Andi Jemma, Tjilik Riwut, Tuanku Tambusai, Nani Wartabone, Sultan Nuku, Kiras Bangun (Garamata), bahkan mungkin kita tidak kenal nama-nama pahlawan Reformasi yang tewas di tahun 1998.
Tapi jangan khawatir, saya tidak sedang menghakimi pengetahuan sejarah kita, banyak faktor yang membuat kita terpisah secara historis dengan mereka, diantaranya kurangnya media bacaan yang memberi kita akses untuk mengetahui sejarah mereka. Sekedar informasi, kesemua nama yang disebutkan diatas telah diakui resmi oleh pemerintah sebagai pahlawan nasional melalui SK Presiden.
Kembali ke inspirasi perjuangan, beberapa pahlawan tersebut juga menyempatkan diri untuk menorehkan buah pikirannya ke dalam tulisan yang mungkin tanpa sepengetahuan dan sekehendak mereka, kemudian menjadi abadi dan bisa terbaca hingga saat ini. RA Kartini, Muhammad Yamin, Hatta, Soekarno, Tan Malaka, Soe Hok Gie, Ahmad Wahib, dan Pramoedya Ananta Toer termasuk sedikit diantara sekian tokoh besar kita yang punya hobi menulis dan menuangkan buah pikirannya bagaimana membangun bangsa ini. Sedang yang lainnya, kita baru bisa menikmati sejarah hidup dan ide kebangsaannya dari serpihan-serpihan lapuk yang disimpan oleh museum dan pewarisnya, atau hanya sekedar tutur lisan dari beberapa tetua-tetua yang hidup sezaman dengan mereka.
Padahal dari tulisan sejarah perjuangan merekalah kita bisa menafsrikan dan memaknai perjalanan bangsa besar ini. Boleh dikatakan, pengetahuan kesejarahan kita berbanding lurus dengan kadar patriotisme/nasionalisme kita. Sebahagian sejarah bisa kita jadikan pegangan dan pemompa semangat untuk melangkah lebih optimis, namun sebahagian yang lain memberi petuah untuk lebih berhati-hati agar kisah kelam yang mereka alami tak perlu kita rasakan juga.
Lantas, apa relevansinya dengan kita, para blogger muda ini? Tentu saja pesan yang ingin saya sampaikan adalah bahwa tidak perlu kita bercita-cita menjadi pahlawan yang diakui pemerintah dengan melakukan gerakan patriotik dan menuliskan ide revolusioner kita di blog masing-masing, tapi anggaplah ini sebagai usaha pribadi untuk mengirim pesan kepada generasi mendatang apa yang sedang kita alami saat ini dan bagaimana kita menyikapinya.
Masing-masing kita punya sikap politik ketika menghadapi realitas di depan kita, terutama realitas-realitas yang tidak sesuai dengan pengharapan kita sebagai anak bangsa. Dan sikap ini perlu dituliskan, tak peduli seberapa jauh jangkauan pengetahuan kita mengenai hal itu, asalkan kita merasa memiliki kepentingan untuk tetap mempersoalkannya, sesuai standard hidup yang kita miliki.
Francois Bacon, filosof terkemuka Inggris tahun 1605, memberikan petuah bijak tentang hebatnya pengaruh dan keabadiaan sebuah tulisan dalam the Advancement of Learning,”…..kita lihat, sejauh mana monumen kecerdasan dan pengetahuan lebih lama bertahan daripada monumen kekuasaan dan ciptaan tangan.
Bukankah kata-kata Homer dapat bertahan selama 25 abad lebih, tanpa kehilangan satu suku kata atau huruf pun, sementara istana-istana, kuil-kuil, bangungan-bangunan, kota-kota pada waktu tertentu mengalami kehancuran dan keruntuhan”.
Pernyataan yang sama pernah diungkapkan oleh penulis besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, “menulis adalah pekerjaan yang berorientasi keabadian, pekerjaan yang menempatkan penulis sebagai bagian dari sejarah. Tanpa menulis, seorang manusia tak akan terkenang oleh sejarah, hilang begitu saja dan dengan demikian ia mengkhianati amanah kemanusiaanya.
Karenanya tetaplah menulis, rajinlah nge-blog dan nama Anda terancam abadi!
Bayangkan betapa antusias dan bangganya anak cucu anda 100 tahun kemudian, mengamati dan menelaah dengan blog warisan yang anda buat saat ini, dengan catatan bahwa kita berharap server blog kita bisa memaintain blog sampai saat itu. :)
No related posts.
tulisan yang sangat menarik, Daeng.
Nah, jadi anak cucuku kelak berkewajiban melanjutkan sewa hosting dan domain saya ini agar tetap abadi.
Hahahaha…
Nda terbayang betapa sibuknya generasi keturunan ke-7 saya yg harus repot posting di blog-blog para leluhurnya.. Kecuali adsense-nya lancar, itung2 amal jari’ah.. :)
hahaa, Mus..
berharaplah anakmu nanti jadi anak soleh yg bisa membayarkan sewa hosting dan domainmu sebagai amal jariah..:D
amin…. ;p
makanya saya sudah bayar domain sampai 10 tahun ke depan, dan hosting kolaburasi sama si calon suami
*uhuk*
Tulisan yang sangat mencerahkan, daeng.
Thanks atas sharingnya..
yup..seperti kata2nya Pram : manusia bisa pandai setinggi langit tapi kalau dia tidak menulis dia akan hilang ditelan masa. untunglah sekarang ada blog, tempat kita bisa menulis sebanyak-banyaknya dan berinteraksi sebesar2nya dengan para pembaca..
selamat nge-blog..
dan jaga terus kontinuitas tulisan anda..!!
hahaha
Daeng Gassing,
soal kontinuitas, itu urusan yang sangat-sangat personal…hahaha
Mudah2an aja trend nge-blog ini ngga sampe hilang ditelan waktu…
kalaupun ada yang baru, mudah2an tidak mengubah apa yang telah ada, tapi malah menyempurnakannx…..
Hahahaha…
saya membayangkan akan ada hadis modern yang membicarakan tentang hosting dan domain jariyah…
hebat… lanjutkan… semangat..!!
mantapz….
tak ada yang abadi….
Sukses, atas tulisan-tulisan beliau yang menjadikan Inspirasi buat blogger baru seperti saya, Mohon sarannya terima kasih, salam blogger makassar
maju terus…..para ikatte appassibattu, appassiinga’, makassar bisa tonji !!!
saya sangat setuju dengan artikel Anda. Sangat memotivasi bagi kami para blogger pemula.
Salam persahabatan dari kami
Makasih artikelx pak… ini memberi inspirasi buat kami para blooger pemula. Thanks n salam perkenalan yang masih belajar
met kenal daeng….,tulisan yang sangat menyentuh…
menjadi inspirasi bagi say untuk memasukkan blog saya ke dalam salah satu point surat wasiat saya…(tidak lupa dengan sewa hosting 10 tahun kedepan) agar kelak anak cucu tau kalo leluhurnya bisa ngeblog….
Assalamu Alaikum
Sikampong ki deng, saya tinggal di padaelo, Jalan poros tampangeng ke tosora.
Tambah semangat ini menulis di blogku. Buat saya, menulis di blog seperti menulis bab demi bab buku kita sendiri. Dan sangat bangga ketika tulisan banyak dan membaca tulisan2 yang sudah lama. Senyum2 sendiri.
Lumayan tercerahkan membaca postingan ini… sudilah kiranya membimbing saya yang masih hijau di dunia blog, karena saya ingin abadi, tidak sekedar terancam… hehe
Assalamualaikum
Terima kasih bang Daeng, sudah memberi inspirasi yang bermanfaat.
Mungkin bukan hanya nama saja yang akan abadi, pahala ‘ ilmu yang bermanfaat ‘ dari postingan2 para blogger pun akan terus mengalir. Amin
Salam
http://www.gissakreasindo.blogspot.com
emang betul kali itu kata daeng,
siip deh…..betul sekali daeng…..untung sekarang sudah ada blog dan internet…coba kayak dulu nulisnya pake kertas atau dibuku…….berapa banyak yang harus dicetak? so thanks semangatnya daeng:)