"/>

Selepas Menjenguk Museum Kota

Tampak depan museum kota
Tampak depan museum kota

Sabtu pagi (1/3) Makassar agak mendung. Jam 9 lewat 30an menit beberapa orang sudah berkumpul di depan museum kota. Mereka adalah teman-temannya Pacca yang tertarik untuk ikut membesuk museum kota sesuai tema Tudang Sipulung kali ini. Awalnya semua peserta masih saling berkumpul dan bercengkerama di halaman bangunan yang didirikan tahun 1906 itu. Sekisar pukul 10:30 barulah seluruh rombongan bergerak masuk dan menjelajahi museum kota.

Bangunan yang sekarang berdiri di Jl. Balaikota itu dulunya adalah kantor pemerintahan Gubernur Jenderal Belanda yang kemudian diambil alih menjadi kantor walikota sejak masa kemerdekaan. Tahun 2000 atas prakarsa walikota Makassar waktu itu, bapak Amiruddin Maula gedung tersebut kemudian dijadikan museum kota karena kantor walikota sudah berpindah tempat.

Disambut Sultan Hasanuddin
Disambut Sultan Hasanuddin

Di bagian depan kita akan disambut hall besar yang sekaligus menjadi ruang untuk menyambut tamu. Di sebelah kanan ada lukisan besar wajah Sultan Hasanuddin, raja Gowa yang paling terkenal serta dua boneka berpakaian adat. Sebelah kiri ada lukisan wajah Syech Yusuf Al Makassari sang ulama terkenal dari kerajaan Gowa serta prasasti peresmian museum. Ada juga sepeda tua sumbangan seorang warga dan yang paling menarik ada piano besar peninggalan jaman kolonial yang berada di tengah gedung serta beberapa kamera tua peninggalan TVRI Makassar.

Di sayap kanan bangunan (atau sebelah kiri pengunjung) ada ruang-ruang pamer berisi peninggalan sejarah, foto dan benda-benda yang menjelaskan sejarah panjang kota Makassar. Sebelah kiri bangunan (atau sebelah kanan pengunjung) digunakan sebagai kantor pengelola museum. Rombongan tentu saja dibawa ke sebelah kanan bangunan.

Di bagian awal kita akan disambut beberapa koleksi peninggalan sejarah kota Makassar di dalam kotak kaca. Suasana memang agak suram, kalau datang sendirian Pacca ndak yakin bisa berani hihihi. Meski koleksinya terbatas tapi menyenangkan juga melihat dan mempelajari asal-usul kota Makassar apalagi karena di situ ada salinan perjanjian Bungaya yang menandai takluknya kerajaan Gowa ke VOC di tahun 1669.

Masuk ke bagian dalam ada ruangan yang penuh dengan foto dan benda-benda yang ada kaitannya dengan kota Makassar. Ada foto Makassar tempo dulu, ada lambang kota Makassar tempo dulu, ada koin tua dan ada deretan foto-foto mantan gubernur SulSel dan walikota Makassar. Sekali lagi, koleksinya masih kurang lengkap. Rasanya masih belum puas ingin tahu banyak tentang sejarah kota Makassar.

Kata pengelola museum mereka sebenarnya masih punya banyak koleksi lagi, tapi saat ini masih sedang dipersiapkan untuk dipajang. Tampaknya museum kota memang terus berbenah untuk jadi lebih menarik.

Di lantai dua ada tiga ruang besar yang bercabang. Di tengah-tengah ada ruang rapat yang luas, konon dulu ruang ini digunakan walikota untuk rapat dengan para staffnya. Kalau berbelok ke kiri kita akan menemukan ruangan yang berisi memorabilia HM Daeng Patompo. Ada yang belum kenal HM Daeng Patompo? Beliau ini walikota Makassar yang menjabat antara tahun 1962-1976. HM Dg. Patompo dikenal sebagai walikota paling visioner yang meletakkan dasar-dasar pembangunan kota Makassar yang modern.

HM dg Patompo dan penghargaannya
HM dg Patompo dan penghargaannya

Ada banyak foto yang merekam kegiatan selama beliau menjadi walikota, lengkap dengan beberapa pakaian dinas beliau semenjak masa peperangan, militer hingga menjabat sebagai walikota. Terus terang, banyak hal menarik tentang kota Makassar yang bisa ditemukan di sini. Ruangan yang berseberangan dengan ruang memorial HM Daeng Patompo ini sebenarnya berisi gambaran tentang kota Makassar yang beragam etnis, sayangnya karena ruangan itu sedang diperbaiki sehingga rombongan tidak sempat masuk ke sana.

Selepas mengunjungi seluruh ruangan di museum kota, Pacca dan teman-teman berbincang-bincang dengan pengurus museum kota di ruangan yang sudah dihias seperti ruang pelaminan. Dari staff museum juga Pacca tahu kalau ternyata memang museum kota sedang “sakit demam”.

Masalah klasik memang karena museum kota sampai saat ini masih kekurangan tenaga ahli untuk merawat benda-benda bersejarah dan tentu saja kekurangan dana untuk membuat museum lebih menarik. Staff museum kota yang dipimpin oleh ibu Nunu sebenarnya sudah mencoba untuk membuat museum kota lebih ramai dan lebih menarik tapi tetap terkendala banyak hal. Lewat bincang-bincang itulah Pacca dan pihak museum kota berharap bisa terjalin kerjasama untuk menghidupkan museum kota, minimal membuat lebih banyak lagi orang yang tertarik untuk datang berkunjung.

Berfoto bersama selepas menjenguk museum kota
Berfoto bersama selepas menjenguk museum kota

Singkatnya hari itu Pacca dan teman-teman jadi tahu apa yang ada di dalam museum kota. Selain benda-benda bersejarah yang bercerita banyak tentang sejarah panjang kota Makassar ada juga pe-er besar bagi kita semua yaitu bagaimana caranya untuk membuat makin banyak orang yang tertarik datang dan berkunjung ke museum kota. Karena bangsa besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya. Betul tidak?

Video membesuk museum kota:

 


One Response

  1. GrupVSI March 13, 2014

Leave a Reply