"/>

Tidak Ada Tempat Aman Buat Anak-Anak Kita!

TSAM Malam Tadi
TSAM Malam Tadi

Paraikatte sekalian,

Malam tadi (9 Mei 2014) bertempat di kafe Baca Jl. Adhyaksa Makassar Anging Mammiri menggelar Tudang Sipulung dengan tema: Mewaspadai Kekerasan Seksual Pada Anak. Tema ini diangkat melihat fenomena maraknya kekerasan seksual pada anak yang terjadi di negeri kita belakangan ini. Tampil sebagai pembicara adalah kak Syawaliah Gismin, seorang psikolog yang juga aktif di Yayasan Kita dan Buah Hati.

Acara ini dibuka dengan pemaparan dari daeng Ipul yang memberi informasi beberapa fakta mencengangkan tentang kekerasan dan kejahatan seksual pada anak-anak. Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia tahun 2013 menyebutkan angka 3.023 kasus kekerasan pada anak-anak atau naik 60% dari tahun sebelumnya. Tribun Timur tanggal 4 Mei 2014 sendiri melansir data kekerasan seksual pada anak di Sulawesi Selatan sebanyak 390 kasus tahun 2012, padahal 2010 jumlah kasusnya hanya 82. Dari sini terlihat betapa kekerasan seksual pada anak semakin hari semakin banyak.

Setelah itu kak Lia memulai presentasinya, berbicara tentang bahaya yang mengancam anak-anak kita. Januari 2014 Yayasan Kita dan Buah Hati melakukan penelitian singkat di 15 propinsi Indonesia tentang kekerasan seksual pada anak, data-datanya sebagai berikut:

  1. Korban kekerasan seksual pada anak lebih banyak menimpa anak perempuan (60%) dan 40% terjadi pada anak laki-laki.
  2. Usia korban paling banyak antara 6-11 tahun.
  3. Usia pelaku paling banyak antara 14-17 tahun.
  4. 31% dari pelaku adalah tetangga korban atau orang yang dekat dan kenal baik dengan korban dan keluarganya.

Dari laporan media Australia didapati satu bukti miris bahwa Bali (utamanya Denpasar) ternyata menjadi surga bagi para pedofil dari Australia. Setiap musim liburan banyak dari para predator itu yang datang ke Bali mencari mangsa, tentu saja karena proteksi dan pengawasan dari petugas berwenang di Bali sangat longgar.

Selanjutnya, definisi kekerasan seksual pada anak itu sendiri ada beberapa macam yaitu:

  1. Menunjukkan diri dan kemaluan
  2. Membelai atau meremas anak
  3. Melakukan perkosaan

Pedofilia sendiri termasuk dalam gangguan seksual (deviasi seksual) selain incest dan hiperseksual. Nah, penjelasan tentang pedofilia adalah sebagai berikut:

  1. Kata pedofilia berasal dari bahasa latin, pedo (anak) dan filia (cinta). Pedofilia adalah kelainan seksual yang membuat pelakunya menjadikan anak-anak sebagai objek fantasi seksualnya.
  2. Mayoritas pelaku adalah laki-laki.
  3. Pedofilia bisa berupa pedofilia heteroseksual (menyukai lawan jenis) dan pedofilia homoseksual (menyukai sesama jenis).
  4. Beberapa modus dari pelaku pedofilia adalah: mendekati anak-anak dengan rayuan, memberi mainan, makanan dll
  5. Ada juga pedofilia yang melakukan aksinya dengan mengancam atau melakukan kekerasan.
Kak Lia saat memberikan presentasi
Kak Lia saat memberikan presentasi

Secara umum pelaku pedofilia memang tidak menampakkan tanda-tanda psikologis dan fisiologis, tapi ada beberapa tanda yang kadang mudah dikenali misalnya perilaku ramah terhadap anak yang berlebihan. Beberapa pedofil juga terlihat sangat kekanak-kanakan dan tidak sesuai dengan umurnya. Penelitian membuktikan bahwa sebagian besar pelaku pedofilia adalah mereka yang dulunya juga pernah menjadi korban tapi tidak ditangani dengan baik. Mereka inilah yang menyimpan dendam dan berhasrat melampiaskannya ketika sudah merasa punya kuasa. Pelaku pedofilia juga pada umumnya sulit menjalin relasi seksual dengan orang sepantaran.

Nah sekarang bagaimana membentengi anak-anak kita dari para predator pedofilia itu? Beberapa tips dari kak Lia adalah sebagai berikut:

  1. Bekali pada anak pentingnya menjaga diri. Berikan pemahaman kalau dirinya berharga dan tidak sembarang orang dapat menyentuhnya.
  2. Mengajarkan bedanya sentuhan (sentuhan baik dari pundak ke atas dan dari lutut ke bawah. Sentuhan mencurgakan: di badan sekitar ketiak, sentuhan berbahaya: daerah lutut ke atas)
  3. Mengajarkan ada rahasia yang baik dan buruk.
  4. Sedapat mungkin hindarkan anak-anak dari gadget atau kontrol perilaku mereka di dunia online.
  5. Berikan pemahaman “underwear rule”, jangan membiarkan orang lain menyentuh anggota tubuh yang tertutup underwear.
  6. Berikan pehamanan agama (pemisahan tidur, tidak boleh tidur dalam satu selimut, masuk kamar orang tua harus ketuk dulu).
  7. Orang tua membiasakan diri untuk berpakaian lengkap di dalam rumah.

Para korban kekerasan seksual biasanya menampakkan ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Tanda fisik (memar pada alat kelamin atau mulut, iritasi kencing, penyakit kelamin dan sakit kerongkongan tanpa penyebab jelas bisa merupakan indikasi seks oral)
  2. Tanda psikologis (menjadi pendiam, mudah marah, mengingau dan gelisah saat tidur, selalu menyendiri, memukul2 dubur dan kelamin, kelakuan yang merusak diri sendiri)

Bagaimana jika musibah itu menimpa anak-anak kita? Berikut tips dari kak Lia:

  1. Konsultasikan dengan pakar agar ditangani sejak dini
  2. Cari tahu/evaluasi apa kebutuhan psikolos anak yang selama ini tidak terpenuhi dan berusaha memahaminya
  3. Perbaiki pola komunikasi, jangan menyalahkan apalagi mengucilkan si korban.

Kejahatan seksual pada anak menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya tanggung jawab orang tua dan guru. Kejahatan dan kekerasan seksual pada anak bisa terjadi di mana saja, bahkan di lingkungan yang menurut kita sangat agamis bisa saja menjadi tempat terjadinya kekerasan seksual pada anak tersebut. Karena itu kita benar-benar harus waspada dan menjaga generasi masa depan kita dari semua kemungkinan yang bisa menghancurkan masa depan mereka.

Ingat, waspadalah! Waspadalah!


One Response

  1. Syaifudin July 1, 2014

Leave a Reply